Permasalahan abses gusi sangat berkaitan dengan kesehatan gigi dan mulut. Umumnya, hal ini terjadi karena kualitas kebersihan dan kesehatan area tersebut tidak bagus. Atau membiarkan permasalahan, tanpa mencari solusi yang tepat. Misalnya gigi bungsu, gigi berlubang dan sejenisnya.

Abses gusi merupakan kondisi pembengkakan yang berbeda dari masalah biasanya. Terdapat bagian yang mungkin berisi nanah, sehingga menyebabkan gusi membentuk seperti benjolan dan membuat sakit. Apabila hal ini terjadi, pasien sebaiknya segera mendatangi dokter gigi untuk bisa mendapatkan pengobatan. Bila kita biarkan, malah bisa menjadi masalah yang fatal.

Berikut ini adalah penjelasan lebih lanjut mengenai abses gusi, supaya semua orang dapat memiliki kesadaran untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut. Serta menghapuskan stigma tentang perawatan gigi yang membuat enggan atau takut ke dokter.

Apa itu abses gusi?

ilustrasi penyebab abses gusi
Sumber gambar

Abses gusi merupakan hasil dari infeksi yang terlalu lama di sekitar gigi dan gusi. Karena tidak tertangani, dapat menyebabkan munculnya nanah yang terbungkus dalam kantung atau abses. Gangguan ini terasa sangat spesifik, karena juga menimbulkan rasa kebas, sakit atau tidak nyaman ketika muncul.

Peradangan seperti ini tidak bisa kita sepelekan, karena bisa berkembang menjadi komplikasi yang lebih parah. Misalnya menyebabkan permasalahan seperti serangan jantung atau sepsis.

Kondisi ini juga tidak bisa pulih dengan sendirinya seperti gusi bengkak atau sariawan ringan. Bahkan obat antibiotik telan saja tidak cukup bila sumber masalah pada abses tidak dikeluarkan. Tidak perlu menunggu nyeri reda untuk memeriksakan diri bila abses gusi mulai muncul.

Penyebab terbentuknya kantung nanah

ilustrasi sakit gusi
Sumber gambar

Kemunculan abses gusi ini bisa terjadi karena beberapa hal. Yang paling sering adalah masuknya kuman akibat gigi berlubang atau pembentukan karang gigi. Semua berasal dari kebersihan gigi dan gusi yang kurang baik. Terkadang, menyikat gigi dan berkumur saja tidak cukup. Sebaiknya rutin kontrol setiap bulan sekali untuk tindakan pembersihan karang gigi dan plak, atau mendeteksi adanya masalah seperti gigi berlubang.

Selain penjelasan tersebut, faktor di bawah ini juga dapat menyebabkan atau memperparah kondisi abses:

  • Kebiasaan merokok
  • Konsumsi makanan manis dengan atau tidak dalam kondisi obesitas
  • Punya kecenderungan diabetes
  • Ada saku periodontal atau kantong gusi sehingga ada sisa makanan atau bakteri yang dapat menyusup ke dalam dan susah membersihkannya bila tidak ke dokter gigi.

Ciri-ciri dan gejala

Kemunculan abses gusi bisa berbeda-beda antara satu orang dengan lainnya. Namun, pasti memiliki benang merah yang sama. Di antaranya yang paling sering adalah keluhan seperti berikut:

  • Rasa sakit pada gusi, ada kalanya juga seperti rasa kebas.
  • Pembengkakan pada gusi dan membentuk benjolan atau kantung. Kadang bisa nampak ada warna putih di dalamnya, kemungkinan besar adalah nanah.
  • Menyebabkan sulit makan.
  • Bertahan lebih dari 3-7 hari atau bahkan lebih
  • Bisa merasakan adanya nanah di mulut, seperti rasa asin.
  • Menyebabkan bau mulut
  • Saat berbaring bisa merasakan kecenderungan untuk sakit pada posisi tertentu.
  • Bila infeksi agak kuat, dapat menimbulkan demam atau juga pembengkakan kelenjar getah bening.
  • Bila gejala di atas muncul, ada kemungkinan sulit menelan.

Apa yang terjadi bila tidak mendapatkan penanganan ke dokter gigi?

ilustrasi pengobatan abses gusi ke dokter - Copy
Sumber gambar

Masih banyak orang yang takut ke dokter gigi karena beragam stigma. Misalnya takut sakit, alat-alatnya yang membuat nyali ciut atau biaya yang mahal. Pada dasarnya, kini teknologi dan layanan kesehatan sudah jauh berkembang. Tujuannya membuat masyarakat merasa aman dan nyaman mendapatkan fasilitas dan pelayanan kesehatan, termasuk dengan gigi.

Bila kita tidak membawa abses gigi atau gusi ini ke dokter, berpotensi menyebabkan komplikasi yang lebih parah. Misalnya rasa sakit yang bisa kambuh kembali sewaktu-waktu dan makin parah. Perlu kita ketahui bahwa ketika nyeri terasa hilang, sebenarnya masalah belum sepenuhnya selesai.

Semakin lama kita biarkan, ada kemungkinan permasalahan ini menyebar ke leher, telinga atau kepala. Dampak paling parah dari abses gusi ini adalah terjadinya sepsis. Di mana kuman dan bakteri mulai mencemari darah sehingga penyakit menyebar ke berbagai area dan organ tubuh.

Cara mengatasi abses gusi

Sejatinya, pasien tidak bisa mengatasi abses gusi sendiri. Namun, sementara bila belum bisa ke dokter gigi, ada cara untuk meredakan gejala lebih dulu, di antaranya seperti:

  • Menjaga kebersihan gigi dan mulut dengan menyikat gigi dan berkumur. Sikat lebih pelan pada area yang sakit.
  • Mengonsumsi obat antibiotik dengan konsultasi dan resep dari dokter. Bila perlu dan mengalami nyeri, biasanya dokter menyertakan obat pereda nyeri.
  • Tidak mengunyah di sisi mulut yang sedang sakit. Pilih makanan yang tidak terlalu perlu menggigit atau mengunyah. Yang teksturnya lembut dan tidak garing agar tidak mengiritasi gusi.
  • Hindari makanan manis, alkohol, rokok, asam dan pedas.
  • Mengelola stres, karena sedikit banyak berpengaruh pada terjadinya nyeri.

Cara ini tidak akan menghilangkan abses, tetapi bisa meringankan keluhan atau gejala. Penanganan sesungguhnya adalah di dokter gigi. Umumnya kita akan perlu melakukan foto panoramik atau rontgen lebih dulu.

Dokter akan melakukan pemeriksaan pada rongga mulut, serta khususnya pada benjolan atau kantung nanah yang ada. Kemudian menentukan di mana lokasi yang bermasalah. Setelahnya, dokter gigi akan menjelaskan mengenai tindakan yang perlu. Kemungkinan bisa pada hari yang sama, di hari yang berbeda atau tindakan beberapa tahap.

BACA JUGA: Nanah Jadi Abses Gigi, Ini Akibatnya Kalau Dibiarkan

Hal tersebut tergantung pada permasalahan yang ada pada abses gusi. Meski demikian, tidak perlu khawatir karena dengan melakukan hal tersebut, kita sudah mengambil keputusan tepat agar bisa mencegah diri dari komplikasi abses yang lebih membahayakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *