Antigen dan antibodi merupakan istilah yang kini sering muncul terkait dengan tes atau pemeriksaan yang dilakukan untuk mendiagnosis Covid 19.

Ayo pahami perbedaan antara antigen dan antibodi ini.

Terkait dengan Infeksi Covid 19

Pandemi Covid-19 membuat orang terpaksa belajar tentang segala hal yang berkaitan dengannya.

Terutama memahami berbagai jenis pemeriksaan atau tes untuk mengetahui apakah telah tertular Covid-19.

Awalnya hanya ada dua jenis tes, yakni tes PCR (polymerase chain reaction) dan tes antibodi. Belakangan, The Food and Drug Administration (FDA) menambahkan tes antigen yang lebih murah dan lebih cepat hasilnya untuk mendeteksi apakah seseorang terinfeksi atau tidak.

Ketika terinfeksi Covid-19, tubuh akan menghasilkan antibodi yang mengikat secara khusus protein-protein dan antigen lain untuk melawan virus.

Ikatan tersebut bermanfaat untuk mengembangkan tes diagnostik berdasarkan antigen dan antibodi.

 

Bedanya Antigen dan Antibodi

Antigen adalah segala zat yang bisa menyebabkan sistem imunitas (daya tahan tubuh) menghasilkan antibodi untuk melawannya.

Antigen ini sebenarnya bisa berasal dari lingkungan, seperti bahan kimia, bakteri, atau virus, seperti halnya virus Corona.

Artinya, bila sistem imun tubuh tidak mengenal zat yang masuk ke dalam tubuh, tubuh akan mencoba untuk melawannya.  Antigen ini yang akan dilawan oleh antibodi tubuh.

Saat antigen ini masuk ke dalam tubuh, tubuh akan menstimulasi respons imun, terutama dengan mengaktifkan limfosit, yakni sel darah putih untuk melawan zat tersebut.

Itu sebabnya ada tes antigen untuk menemukan ada tidaknya protein tertentu dari virus tersebut dalam tubuh dengan cara swab hidung atau tenggorokan. Kemudian dimasukkan ke dalam papan strip dan hasilny akan positif bila ada antigen dalam tubuh.

Tes antigen merupakan salah satu tes diagnostik untuk Covid 19.

Hasil tes antigen lebih cepat daripada tes PCR, sehingga disebut rapid test.

Tes antigen memiliki peluang lebih tinggi melewatkan infeksi aktif. Jika hasil tes antigen negatif maka menunjukkan orang itu tidak terinfeksi Covid-19.

Namun, tes antigen berisiko tinggi terjadi kesalahan membaca hasil positif. Artinya, bisa jadi seseorang  terinfeksi padahal kenyataannya tidak ,terutama pada wilayah-wilayah yang sangat sedikit penderita Covid-19.

Bila hasil tes antigen Anda negatif, tetap harus waspada, terutama bila mengalami gejala-gejala yang mengarah ke Covid-19.

Menurut FDA, tes antigen mengarah ke banyak hasil negatif palsu. Karena itulah melakukan atau melanjutkan dengan tes PCR untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat perlu Anda lakukan.

 

Rapid Test Antigen = Swab Antigen?

Kedua istilah dalam bahasa Inggris ini sama. Rapid test maksudnya adalah hasil pemeriksaan sudah bisa muncul sekitar 15 menit kemudian.

Sedangkan swab adalah cara pengambilan sampel dari hidung atau tenggorokan dengan cara usap (swab).

Tes antigen sebenarnya bisa berguna untuk memeriksa patogen lain yang juga berasal dari saluran napas lainnya, seperti virus flu. Namun, dalam keadaan darurat pandemi seperti saat ini, tes antigen adalah sebagai salah satu tes untuk membantu mengidentifikasi Covid-19.

Virus SARS-COV-2 atau Covid-19 adalah tipe baru dari virus Corona penyebab infeksi pada hidung, rongga sinus, dan/atau tenggorokan.

Antibodi

Antibodi merupakan protein yang terbentuk oleh sistem kekebalan tubuh untuk melawan adanya bakteri, virus atau mikroorganisme lainnya ke dalam tubuh.

Protein ini terdeteksi dalam darah sebagai immunoglobulin (Ig) dan dua jenis Ig yang dapat terdeteksi pada tes serologi adalah Ig G dan Ig M.

Saat tubuh terpapar virus Corona maka tubuh akan mengeluarkan atau memproduksi kedua immunoglobulin tersebut. Keduanya ada dalam darah yang mengandung kuman, virus, atau zat kimia tertentu.

Antibodi IgM akan terbentuk dalam tubuh ketika pertama kali terinfeksi karena antibodi ini merupakan bentuk pertahanan pertama tubuh untuk melawan infeksi.

Jumlahnya meningkat dalam waktu singkat ketika infeksi terjadi, kemudian akan menurun dan tergantikan IgG. IgG merupakan respons jangka panjang sehingga dapat memberikan kekebalan dalam jangka panjang pula.

Apabila yang hasilnya reaktif adalah IgG maka menunjukkan adanya antibodi dari infeksi yang sudah lampau, sedangkan IgM yang reaktif artinya antibodi dari infeksi yang baru aja terjadi.

Namun, rapid test bukanlah alat untuk menegakkan diagnosis hanya sebagai pendeteksi antibodi saja, sehingga perlu memastikannya lagi dengan PCR dan swab test.

Proses terbentuknya antibodi tidak dalam waktu singkat namun bisa hitungan hari hingga minggu. Itu sebabnya WHO tidak menyarankan rapid test antibodi untuk mendeteksi virus corona pada masyarakat.

Namun antibodi mempunyai peran penting sebagai benteng pertahanan tubuh terhadap antigen, seperti virus (Covid-19) dan bakteri lainnya.

Tes antibodi hanya mendeteksi ada tidaknya antibodi dari sistem kekebalan tubuh sebagai respons terhadap virus, bukan virus itu sendiri.

Antigen dan Antibodi, Perlukah Tes Lainnya?

Tes antigen dan antibodi merupakan prosedur murah dan cepat. Namun, hasilnya sering salah, tidak akurat. Kedua tes tersebut sebagai skrining awal kasus suspek pada orang-orang yang memiliki gejala mengarah ke Covid-19.

Bila hasilnya positif, atau untuk mengetahui hasil yang benar-benar akurat harus dilanjutkan dengan pemeriksaan PCR (polymerase chair reaction).

Tes PCR merupakan tes molekuler (genetik) untuk mendeteksi materi genetik virus. Tes ini paling akurat dan mencakup tes untuk menentukan asam ribonukleat (RNA) dari air liur atau usap hidung. Meski butuh waktu lebih lama untuk memroses dan menafsirkan hasilnya pada laboratorium, namun tes PCR adalah tes paling sensitif dan spesifik untuk pengujian Covid-19.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *