Tak semua orang paham konsekuensi obat yang sedang digunakan. Ada yang hanya mengikuti resep dokter, aturan pakai atau bahkan menggunakan aturan sendiri. Salah satunya adalah penggunaan antibiotik.

Dalam resep oleh dokter, antibiotik selalu harus habis. Hal ini karena fungsinya yang menekan dan menghentikan perkembangan infeksi seperti bakteri. Ada dua kebingungan yang sering terjadi di masyarakat, yakni tidak menghabiskan antibiotiknya, atau mengonsumsi di luar resep dokter karena menganggapnya sebagai pelawan penyakit yang ampuh.

Mari kita kupas sedikit mengenai antibiotik agar tidak terjadi miskonsepsi penggunaannya yang malah menambah risiko pada kesehatan kita.

Anjuran menggunakan atau tanpa antibiotik

Suplemen di pasaran yang belum terbukti dan memiliki izin obat sebaiknya tidak dikonsumsi sembarangan. Sumber Gambar: Pexels

WHO menyarankan, bila memang penyakit tersebut belum terlalu memerlukan antibiotik, kita tidak harus menggunakannya. Namun, ketika kita datang ke dokter dan telah menjalani pemeriksaan, kemudian diberi resep antibiotik, kemungkinan besar memang perlu. Bila masih ragu, kita bisa menanyakan detail resep yang ada sebelum meninggalkan ruangan dokter.

Antibiotik harus dihabiskan walau sudah terasa baikan?

Seringkali, kita merasa gejala sudah berkurang atau bahkan tidak ada lagi, sehingga merasa tak perlu minum antibiotik lagi, padahal belum habis. Sebenarnya, antibiotik boleh saja tidak habis, tapi hanya dengan petunjuk dari dokter. Menghentikan penggunaannya tanpa konsultasi, dapat memungkinkan adanya resistensi antibiotik di kemudian hari.

Memang ada penelitian tentang pengoptimalan durasi terapi antibiotik yang hingga saat ini belum menemukan bukti klinis. Tapi hal ini tidak berarti antibiotik bisa kita hentikan sewaktu-waktu. Begitupula pada penggunaannya di luar resep dokter.

Antibiotik yang berbeda, memiliki jenis yang berbeda pula dalam dosis dan frekuensinya. Penggunaannya pun setelah melalui tahap pemeriksaan yang tepat oleh dokter. Sebagai orang awam, jangan menggunakan teknik kira-kira atau konsumsi antibiotik seperti minum vitamin atau obat warung.

Apa itu resistensi antibiotik?

Salah satu hal yang sering jadi bahasan adalah kebalnya sumber penyakit akibat resistensi antibiotik. Kondisi ini memungkinkan untuk terjadi, karena penggunaan antibiotik yang tidak sesuai anjuran. Hal ini bisa menyebabkan bakteri penyebab penyakit belum sepenuhnya tuntas atau ada dampak lainnya. Karenanya, antibiotik tak bisa kita konsumsi sembarangan atau membuat kita kurang yakin dengan resep yang ada.

BACA JUGA: Sakit Gigi Saat Pandemi, Ini Cara Mengatasi dan Metode Aman Bila Harus ke Dokter

Tapi, pemahaman dasarnya adalah bahwa rangkaian obat dan antibiotik yang diresepkan oleh dokter, mestinya sudah sesuai dengan pedoman dan dosis yang disarankan. Selebihnya, kita bisa konsultasikan untuk membahas kemungkinan alergi, obat pengganti dan sebagainya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *