Cenderung seperti flu biasa adalah beda gejala Covid 19 varian Omicron dan Delta secara garis besar. Tapi hal ini tidak berarti kita bisa kembali merasa ‘normal’ sebelum pandemi.

Meski virus terus bermutasi dan akan memiliki kecenderungan untuk menjadi penyakit musiman, namun munculnya varian Delta di tahun lalu menjadi catatan kalau kewaspadaan terhadap virus baru tetap perlu. Delta bahkan lebih mencatatkan banyak keparahan dan kematian pada pasien, termasuk kolapsnya sistem rumah sakit di berbagai negara karena kewalahan. 

Omicron meski tidak seganas Delta, tetap membahayakan bagi mereka yang punya penyakit bawaan atau kondisi khusus dan rentan. Tercatat di awal lonjakan, ada dua kasus kematian pertama, dan di bulan kedua 2022 sudah mencapai angka 100 laporan kematian. 

Sebuah catatan penting, ketika sebuah varian sebenarnya ringan, namun memiliki penularan yang sangat cepat dan membuat fasilitas kesehatan penuh, maka risiko kematian hanya 11-12 bedanya dengan varian seganas Delta. Yang mestinya bisa kita tolong, tak tertolong karena rumah sakit dan tempat isolasi terlanjur penuh. 

Menarik benang merah dari sini, adalah virus Corona yang tetap tak bisa kita entengkan layaknya flu sehari-hari. Nah, apa saja perbedaan gejala varian Omicron dan Delta? Mari kita bahas bersama. 

Beda gejala Covid-19 varian Omicron dan Delta di anosmia

[Sumber gambar]
Anosmia jadi salah satu gejala khas di masa pandemi Covid-19 sejak awal kemunculannya, hingga varian Delta yang mengkhawatirkan di semester kedua 2021. Anosmia adalah keadaan di mana penderita Covid-19 tiba-tiba kehilangan indra penciuman dan perasa. Sehingga tak dapat mencium aroma atau bau-bauan, serta merasakan makanan. 

Pada beberapa kasus, rasa atau bau bisa berubah menjadi sangat tidak enak bagi penyintasnya. Hal ini bisa terjadi di saat mulai bergejala atau bahkan setelah dinyatakan negatif. Kondisi ini bisa menggunakan terapi untuk mengembalikannya dan bisa pulih seiring waktu. Gejala ini tidak banyak muncul pada varian Omicron. 

Mual dan muntah yang intense

[Sumber gambar]
Pada varian Delta, gejala tidak hanya berupa flu. Beberapa kasus bisa bermula dari gangguan pencernaan. Di antaranya mulai dari rasa mual dan muntah yang bisa terjadi berkali-kali. Kondisi ini sangat tidak menguntungkan bagi mereka yang memiliki masalah pencernaan bawaan seperti maag dan GERD. Intensitas mual dan muntah, kadang dengan diare berkali-kali, bisa menyebabkan penderita cepat mengalami dehidrasi dan lemah sangat cepat. Pada pasien Omicron, bisa mengalami mual tapi tidak menyebabkan gangguan pencernaan yang lebih masif. 

Suhu demam, beda gejala Covid 19 Varian Omicron dan Delta

Pasien yang terpapar varian Delta bisa mengalami demam di atas 37 derajat. Demam yang kita alami cenderung menggigil. Oleh karena itu, screening di perkantoran, fasilitas umum, menggunakan termometer untuk mengukur suhu tubuh seseorang. Tujuannya sebagai usaha mendeteksi secara dini apabila ada orang yang menunjukkan gejala kurang sehat.

Pada varian Omicron, gejala demam bisa bervariasi. Namun melansir dari Kontan, tidak jauh lebih berat dari varian pendahulunya. 

Saturasi oksigen dan sesak nafas

[Sumber gambar]
Perbedaan lain dari varian Omicron dan Delta yang paling spesifik adalah penurunan saturasi oksigen yang bisa terjadi pada siapapun. Tak peduli kita memiliki komorbid atau tidak dan di usia berapa. Ini menyebabkan seseorang jadi semakin sesak nafas, karena paru-paru sudah sangat terinfeksi dan asupan oksigen dalam darah semakin turun. 

Omicron bisa menyebabkan sesak nafas, namun lebih kepada efek dari flu yang timbul. Kecuali, pasien memang memiliki kondisi bawaan seperti asma atau lainnya, sehingga memicu sesak. 

Beda gejala Covid 19 varian Omicron dan Delta dari segi sakit tenggorokan

[Sumber gambar]
Covid 10 varian Omicron menimbulkan gangguan seperti tenggorokan gatal. Hal ini mungkin berlanjut menjadi batuk, namun tidak selalu membuat sakit radang tenggorokan. Sedangkan pada varian Delta, kondisi ini bisa jadi lebih berat. Batuk terdengar lebih parau dan hampir seperti tersengal bila berbarengan dengan sesak nafas. Kondisi ini bisa berlanjut menjadi long Covid atau pulihnya membutuhkan waktu yang cukup lama. 

Cara membedakan Covid-19 Omicron atau Delta

[Sumber gambar]
Dari beberapa perbedaan di atas, kita bisa mendeteksi secara dini. Meski demikian, kondisi ini bisa berubah sangat cepat pada sebagian orang, terutama yang termasuk golongan rentan dan memiliki penyakit bawaan. Cara untuk memastikan dengan tepat adalah dengan melakukan swab test PCR. 

Laboratorium yang melayani swab test PCR dapat menelaah apakah varian tersebut termasuk Delta, Omicron atau jenis varian lainnya. Meski tidak banyak perbedaan pengobatan, tapi bisa menjadi acuan untuk perawatan yang lebih tepat dan penyelamatan dari potensi kronis yang mungkin muncul. 

PCR lebih ringan dengan program Swab and Save dari GSI

Infografis Tentang Omicron Indonesia - GSI

GSI Lab memahami kondisi pandemi yang berat bagi banyak sekali kalangan. Oleh karena itu, GSI berusaha memberikan kontribusi pada publik dengan mengadakan program Swab and Save. Di sini, kita bisa mendaftarkan diri untuk mendapat layanan swab PCR gratis dengan memenuhi beberapa persyaratan umum. 

BACA JUGA: Tak Perlu Risau, Ini Obat Omicron Covid yang Bisa Digunakan

Selain itu, kita juga bisa berdonasi di sini bila ingin menjadi bagian dari gerakan baik ini. Karena pandemi pastinya memberikan dampak yang besar kepada sebagian besar masyarakat, sehingga untuk mendapatkan akses kesehatan pun cukup berat. Nah, dengan ikut melakukan kebaikan ini, kita membantu meringankan beban sesama saudara sebangsa dan setanah air yang lainnya. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *