Belakangan istilah gangguan kecemasan menjadi sangat populer. Sejak munculnya pandemi, memang semakin banyak orang yang mengekspresikan rasa khawatir dan gelisah secara terbuka. Tujuannya untuk bisa menyalurkan perasaan tersebut.

Kecemasan adalah kondisi yang lumrah terjadi, tapi memiliki kadar dan pemicu yang berbeda-beda pada tiap orang. Bila sampai menyebabkan ketidakteraturan atau ketidakseimbangan kualitas hidup, maka sudah termasuk pada kategori gangguan. Ada banyak hal yang menyebabkan kondisi ini, misalnya karena sakit, bencana, trauma, kesulitan finansial dan masih banyak lagi.

Orang dengan gangguan kecemasan mungkin tampak sehat-sehat saja, sebab memang yang mengalami permasalahan adalah pada psikisnya. Meski demikian, kondisi ini masih bisa tertolong dengan beberapa cara. Bagaimana kecemasan itu muncul? Seperti apa gejalanya dan bagaimana cara menanganinya? Kita akan bahas bersama di sini.

Gangguan kecemasan itu seperti apa?

ilustrasi seorang wanita alami gangguan kecemasan
Sumber gambar

Semua orang bisa mengalami cemas, tapi sebagian bisa merasakan gangguan kecemasan. Yakni kondisi di mana seseorang kemungkinan lepas kendali atau sulit dalam mengendalikan pikiran yang sedang gelisah, gugup, takut atau khawatir akan hal yang sebenarnya belum tentu terjadi.

Hal ini karena dalam pikirannya terjadi pola pemikiran antisipatif ke arah ‘skenario terburuk’, sehingga dalam benaknya membayangkan nantinya akan terjadi hal-hal yang membuat mereka resah. Pada kasus gangguan kecemasan, orang yang mengalaminya sulit mengendalikan diri dan mengontrol pikiran serta perasaan mereka, sehingga kekhawatiran ini muncul lebih dari sebuah sikap kewaspadaan.

Apa penyebab gangguan kecemasan?

Pertanyaan berikutnya, mengapa kondisi ini bisa terbentuk? Hal tersebut terjadi karena berbagai faktor yang kompleks pada masing-masing individu. Akan tetapi, umumnya selalu ada hal yang mendasari terjadinya kecemasan ini. Di antaranya seperti:

  • Faktor keturunan atau riwayat keluarga yang memiliki gangguan rasa cemas
  • Pengalaman yang kurang menyenangkan, sehingga menimbulkan trauma atau kondisi stres
  • Menghadapi kondisi yang bertekanan atau baru pertama kali mengalaminya. Misalnya wawancara kerja, pertama kali menyetir dan sejenisnya.
  • Adanya gangguan tidur atau kurang tidur/istirahat
  • Ketidakseimbangan kondisi kimia dalam otak sehingga mempengaruhi kestabilan berpikir
  • Sedang dalam penggunaan obat tertentu yang menyebabkan pengaruh pada kondisi kognitif
  • Gangguan kepribadian
  • Gangguan medis yang menyebabkan gejala tertentu seperti gangguan ritme jantung.

Gejala yang seringkali tidak terlihat

ilustrasi gejala gangguan kecemasan
Sumber gambar

Dalam benak kita mungkin kecemasan tampak seperti orang yang gemetar atau ketakutan. Akan tetapi, cukup banyak gejala yang tidak nampak pada seseorang, melainkan terepresentasi menjadi sikap yang lain. Setidaknya ada tiga klasifikasi cemas yang bisa kita lihat perbedaan gejalanya.

Gangguan panik

Orang dengan gangguan panik biasanya menunjukkan gejala yang cukup kasat mata. Sebab kepanikan tersebut bisa nampak secara impulsif. Misalnya terlihat sangat ketakutan, mudah terkejut, berkeringat, kelihatan gelisah dan terasa seperti jantungnya berdebar kencang. Dalam pemicu yang sangat kuat, bisa menyebabkan orang yang panik ini kemudian merasa lemas tak berdaya.

Gangguan kecemasan sosial

Mereka yang mengalami jenis kecemasan sosial bisa terlihat dari perilakunya. Orang-orang ini tidak nampak seperti sedang sakit, gelisah atau panik. Akan tetapi memang tidak begitu nyaman ketika berada di lingkungan yang baru baginya.

Gejala yang tampak dari sikapnya seperti cenderung tidak melakukan kontak mata, memiliki rasa percaya diri dan self esteem yang rendah. Seringkali menolak atau menarik diri dari pertemuan dengan banyak orang, sebab hal tersebut membuat mereka gelisah atau tidak nyaman, bahkan merasa sangat capek. Selain itu, bisa juga hanya memilih pergi ke tempat yang sama atau bertemu hanya dengan orang-orang yang mereka sangat percaya.

Gangguan kecemasan umum

Meski disebutnya umum, akan tetapi kecemasan ini bisa muncul hingga lebih dari setengah tahun lamanya. Hal ini bisa terjadi karena adanya kesulitan dalam mengendalikan pikiran dan fokus, berpikir berlebihan atau istilahnya adalah overthinking, mindset yang terbangun akibat pola asuh atau pengalaman masa lalu dan banyak lagi.

Gejala yang sering timbul seperti merasa gelisah dan takut, sulit menenangkan diri, dada berdebar, keringat dingin, gemetar, sensitif dan mudah marah atau emosional lainnya seperti menangis. Sulit tidur dan kurang nafsu makan. Otot dan pikiran tegang.

Cara mengatasi saat gejala muncul

ilustrasi mengatasi gangguan kecemasan
Sumber gambar

Menurut data dan survei, setiap tahunnya di Indonesia dapat terjadi setidaknya 2 juta kasus gangguan kecemasan. Sebagian memerlukan penanganan dokter dan sebagian lagi bisa terdeteksi secara mandiri. Kendati demikian, gangguan kecemasan adalah kondisi yang bisa disembuhkan.

Secara sederhana, kita bisa menenangkan diri sendiri ketika gejala ini terjadi. Misalnya ketika gangguan panik datang, padahal tidak ada serangan atau gangguan apapun yang membahayakan. Coba kendalikan diri dan pejamkan mata. Selanjutnya tarik nafas dalam-dalam dan hembuskan secara perlahan. Mulai atur nafas meski mungkin membutuhkan waktu. Gangguan panik biasanya terjadi kurang dari 10 menit.

Selain itu kita bisa melakukan pelukan kupu-kupu bila gejalanya tidak menimbulkan kepanikan. Silangkan kedua tangan dan letakkan di dekat pundak. Tepuk pundak kanan dan pundak kiri, perlahan-lahan, bergantian. Cara ini bisa menenangkan diri sendiri, lakukan selama yang kita butuhkan. Katakan, “Semua baik-baik saja,” atau bentuk afirmasi positif lainnya yang bisa menenangkan diri sendiri.

Bila pertolongan mandiri ini tidak membuahkan hasil, kemungkinan kita memerlukan pertolongan psikolog atau psikiater. Mereka bisa membantu menggali penyebab kondisi pasien, sehingga memudahkan pasien menemukan faktor penyebab permasalahannya.

Terkadang, pasien tidak hanya memerlukan konsultasi dan terapi, tapi juga pengobatan bila perlu. Sebab ada beberapa kondisi cemas yang membuat orang tersebut sulit tidur, atau mengalami gangguan fisik seperti mual dan muntah, sakit kepala, sesak nafas dan sejenisnya.

Obat-obatan tersebut tentunya sudah sesuai dengan kaidah dan SOP profesi dari psikolog atau psikiater. Sehingga kita tidak perlu khawatir. Tanyakan sejelas mungkin perihal obat dan perawatan yang kita dapatkan, serta pastikan terbangun rasa percaya antara kita dengan psikiater atau psikolog.

BACA JUGA: Pengertian Psikolog dan Perannya pada Kesehatan Mental

Gangguan kecemasan adalah hal yang lumrah terjadi. Bukan merupakan aib atau kondisi yang memalukan. Sebaiknya segera memeriksakan diri bila memang gangguan ini sudah mengganggu aktivitas sehari-hari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *