Covid menambah panjang daftar penyakit yang berkaitan dengan infeksinya. Satu yang kini harus menjadi perhatian adalah herpes.

Kesimpulan ini muncul karena adanya gejala ruam-ruam pada pasien penderita Covid-19. Ruam vesikular seperti lepuhan kecil berisi cairan yang juga ditemukan pada penderita cacar herpes simplex. Lepuhan tersebut juga menjangkiti sekitar 1% kasus Covid-19 dan muncul sepanjang 10 hari.

Herpes sendiri merupakan kelompok virus yang bisa menyebabkan infeksi pada bagian kulit manusia. Dua varian virus herpes yang paling umum menyerang adalah, yaitu herpes simplex dan varicella-zoster. Tingkat penularannya juga sangat tinggi karena virus ini bisa menyerang siapa saja yang punya riwayat kontak dengan penderita, terutama ketika sistem kekebalan tubuh menurun.

Tiga varian virus penyebab herpes

Virus herpes terbagi dalam tiga varian berbeda. Apa saja?

  • Alfa herpesvirus

Varian virus herpes ini memiliki perkembangan yang sangat cepat serta punya kemampuan ‘menyembunyikan diri,’ menjangkiti tanpa gejala, untuk kemudian kambuh di lain waktu. Beberapa kelompok virus yang termasuk dalam Alfa herpesvirus adalah HSV tipe 1, tipe 2, dan varicella-zoster virus.

  • Beta herpesvirus

Saat menginfeksi, Beta herpesvirus akan membuat sel menjadi bengkak. Beberapa sel yang sering kena serangan virus ini adalah sel darah merah, ginjal, serta kelenjar sekretori. Siklus perkembangbiakannya juga tergolong panjang.

Contoh Beta herpesvirus antara lain cytomegalovirus, herpesvirus 6, dan herpesvirus 7.

  • Gamma herpesvirus

Gamma herpesvirus umumnya menyerang bagian sel atau limfosit T atau B di dalam tubuh manusia. Beberapa virus yang termasuk dalam varian Gamma herpesvirus adalah Epstein-Barr virus dan human herpesvirus 8.

Apa yang membuat herpes bisa menyerang manusia?

Ilustrasi herpes
[Sumber gambar]
Tentu saja penyebab herpes bisa menyerang manusia adalah virus. Ada delapan jenis virus herpes, yaitu Herpes simplex virus type 1 (HSV 1), Herpes simplex virus type 2 (HSV 2), varicella-zoster (VZV), Epstein-Barr (EBV), Cytomegalovirus (CMV), Herpesvirus 6 (HBLV), Herpesvirus 7, dan Herpesvirus 8 Sarkoma Kaposi.

Untuk artikel ini akan berfokus pada varian Alfa herpesvirus, yang merupakan penyebab dari mayoritas penyakit herpes di Indonesia. Ketahui lebih dalam agar bisa melakukan langkah pencegahan sekaligus penyembuhan ketika mengalami penyakit ini.

Siapa saja yang bisa terjangkit herpes dan apa penyebab utamanya?

Siapa pun bisa tertular penyakit herpes, tanpa memandang usia. Penyebaran atau infeksinya sebagian besar terjadi akibat adanya kontak badan dengan penderita herpes lainnya.

Beberapa risiko orang bisa tertular herpes adalah sebagai berikut:

  • Sebagian besar penderitanya adalah wanita.
  • Sering berganti pasangan seksual.
  • Sistem kekebalan tubuh yang buruk
  • Pernah melakukan hubungan seksual di usia muda.
  • Memiliki penyakit menular seksual.

Virus pemicu yang menimbulkan resiko-resiko di atas adalah Herpes simplex type 2 dan kebanyakan menyerang orang dewasa. Anak-anak pun juga bisa terjangkit herpes dengan varian jenis lain, yaitu VZV. Beberapa faktor mengapa orang bisa tertular virus herpes varian VZV adalah:

  • Usianya di bawah 12 tahun.
  • Pernah melakukan kontak langsung dengan penderita cacar air.
  • Berada di lingkup yang dekat dengan seorang penderita cacar air.
  • Sistem kekebalan tubuh lemah.

Rangkaian dari serangan penyakit cacar air yang disebabkan oleh VZV adalah herpes zoster. Beberapa faktor atau kondisi yang bisa memunculkan gangguan akibat virus herpes zoster adalah:

  • Pasien pernah mengalami cacar air.
  • Usia pasien penderita adalah 60 tahun ke atas.
  • Pemicu penyakit ini juga akibat adanya perawatan medis, seperti penggunaan obat imunosupresan, menjalani kemoterapi atau radioterapi.
  • Orang yang memiliki penyakit imun, seperti HIV/AIDS atau kanker memiliki resiko tinggi tertular virus herpes zoster.

Gejala-gejala yang mengiringi serangan herpes pada manusia

Serangan penyakit herpes tidak muncul secara serta merta. Virus ini menginfeksi manusia lewat beberapa tahapan yang kemudian menjadi gejala. Untuk itu, waspadalah pada tahapan-tahapan atau stadium gejala dari herpes.

  • Stadium primer

Stadium primer merupakan infeksi virus di hari kedua hingga kedelapan. Penderita akan merasakan beberapa gangguan, seperti adanya ruam lepuh pada kulit dengan ukuran kecil dan terasa sakit bila tersentuh. Lepuhan tersebut biasanya berisi cairan berwarna bening atau keruh dan daerah sekitarnya berwarna kemerahan (blister). Bila pecah, bagian kulit tersebut akan menimbulkan luka terbuka.

  • Stadium laten

Pada stadium laten, luka atau blister akan mulai reda. Sayangnya, ini bukan pertanda baik karena virus justru sedang berkembang. Situasi lebih gawat karena infeksi tersebut menyebar hingga saraf dekat tulang belakang yang ada di bawah kulit.

  • Stadium peluruhan

Virus sudah mencapai ujung saraf organ tubuh dan mulai berkembang biak. Penderita biasanya tidak memiliki keluhan atau gejala. Pada kasus ini, kebanyakan organ yang terserang adalah bagian kemaluan, yaitu testis atau vagina, sehingga cairan yang dihasilkan oleh organ tersebut terkontaminasi virus.

  • Stadium rekurensi

Pada stadium ini, blister yang sudah mereda bisa muncul lagi, namun dengan tampilan yang tak separah sebelumnya pada stadium primer. Beberapa gejala yang menyertai stadium rekurensi ini adalah sensasi gatal, kesemutan, serta nyeri pada daerah infeksi stadium primer.

Gejala-gejala penyerta infeksi herpes

Ilustrasi gejala penyerta herpes
[Sumber gambar]
Sistem imun tubuh memiliki peran besar pada gejala yang menyertai serangan virus herpes. Ada kasus yang tanpa gejala, namun ada pula penderita yang merasakan keluhan-keluhan sakit.

Untuk yang merasakan sakit, beberapa gejala yang muncul bersamaan dengan herpes adalah demam, rasa lelah, sakit kepala, nyeri otot, nafsu makan yang berkurang, serta pembengkakan kelenjar getah bening.

Beberapa gejala mirip dengan apa yang dialami penderita Covid-19 sehingga ada kaitan di antara keduanya. Namun pada varian virus herpes tertentu, akan ada gejala khas. Seperti infeksi HSV 1 yang memunculkan gangguan pada bagian mulut dan area sekitarnya dengan keluhan gatal, nyeri, serta sensasi seperti tertusuk atau terbakar di tempat infeksi.

Lain halnya dengan HSV 2 yang menyerang bagian genital. Virus ini akan menimbulkan gangguan seperti pembengkakan di kulit kelamin dan muncul rasa sakit saat buang air kecil. Kulit kemaluan juga terasa perih, kering, gatal, juga adanya nyeri, serta sensasi seperti terbakar. Selain itu, muncul juga keluhan luka pada bagian pantat, anus, paha, atau kemaluan dengan rasa sakit.

Sementara untuk penderita virus herpes zoster akan memiliki keluhan ruam kulit yang tersebar ke seluruh tubuh, berisi cairan, serta terasa gatal. Gejala ini kemungkinan juga akan diikuti dengan keluhan-keluhan lain, yaitu nyeri, panas, dan munculnya lepuh pada kulit.

Pengobatan untuk penderita penyakit herpes

Karena sebagian gejalanya mirip dengan Covid-19, pastikan bahwa penyakit yang Anda derita adalah herpes. Caranya paling mudah tentu saja melalui tes PCR di laboratorium terdekat. Agar segera mengetahui hasilnya, periksakan diri di GSI Lab yang memiliki sistem pemeriksaan dan deteksi Covid—19 berstandar tinggi, yang bisa diketahui hasilnya dalam 12 – 24 jam.

Untuk masyarakat kurang mampu bisa memanfaatkan tes swab PCR gratis lewat program #SwabAndSaveIndonesia dari GSI Lab. Caranya sangat mudah. Tinggal kunjungi situs gsilab.id/id/swab-save/ dan lengkapi persyaratannya.

Bila hasil swab PCR negatif, besar kemungkinan penyakit tersebut adalah herpes. Segera kunjungi dokter ahli untuk mendapatkan diagnosa dari gejala-gejala yang Anda rasakan. Semakin cepat semakin baik, terutama bila sistem imun sedang lemah.

Beberapa hal yang akan menjadi perhatian dokter bagi penderita herpes adalah sebagai berikut:

  • Melakukan diagnosa terhadap herpes dengan menanyakan gejala, riwayat aktivitas dan kesehatan pasien.
  • Memeriksa bagian-bagian tubuh yang sering kali jadi sasaran penyakit herpes.
  • Pengambilan sampel dengan metode swab pada area kulit atau genital yang terinfeksi.
  • Pemeriksaan laboratorium terhadap sampel.
  • Pemeriksaan Tzanck, yaitu mengambil sampel kulit dan diteliti lewat mikroskop.
  • Tes antibodi dengan mengambil sampel darah.
  • Bila herpes menyebabkan infeksi mata atau sistem saraf pusat, dokter akan mempertimbangkan untuk melakukan tes PCR sebagai langkah deteksi virus.

Pengobatan bagi penderita herpes

Untuk penderita yang terkonfirmasi menderita herpes akan mendapatkan perawatan dengan obat-obatan antivirus, seperti Acyclovir, Valacyclovir, Famciclovir, serta Penciclovir.

Selain itu, untuk meredakan keluhan sakit atau nyeri yang menyertai herpes, dokter juga akan memberikan obat-obatan umum seperti penggunaan paracetamol atau ibuprofen untuk meredakan rasa nyeri.

Beberapa treatment lain yang sebaiknya Anda lakukan bila memiliki gangguan herpes adalah:

  • Mandi dengan air suam kuku.
  • Kompres air hangat atau air dingin pada ruam kulit.
  • Untuk kenyamanan, pakai baju longgar berbahan katun.
  • Pastikan area luka selalu bersih dan kering.

Pencegahan herpes agar tidak menulari Anda atau orang lain

Obat terbaik setiap penyakit adalah dengan melakukan langkah pencegahan. Karena bersifat menular akibat kontak dengan penderita, sebaiknya hindari kontak fisik dengan orang lain. Selain itu jagalah kebersihan tubuh, terutama bagian tangan dengan mencucinya secara rutin. Hindari pula berbagi barang dengan orang lain untuk mencegah penularan penyakit yang satu ini.

BACA JUGA: Gatal pada Kulit, Ini Penyebab dan Kemungkinan Tanda Penyakit

Herpes merupakan penyakit yang satu ini cukup menyiksa penderitanya, baik secara fisik maupun mental. Untuk itu, kenali penyakitnya mulai sekarang. Jangan lupa untuk selalu meminimalkan kemungkinan tertular dengan langkah-langkah pencegahannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *