Indonesia saat ini sedang memasuki gelombang 3 Omicron. Tahap yang gejala umumnya memang lebih ringan, tapi ternyata penularannya jauh lebih cepat dan tetap sama-sama merepotkan. 

Hal ini terlihat dari meningkatnya permintaan swab PCR dan perlunya membuka kembali beberapa sarana isolasi terpusat, bagi penyintas yang rumahnya tak memenuhi syarat untuk isoman. Laporan jumlah kematian harian juga tidak sedikit. Bahkan, masih ada beberapa orang yang akhirnya memerlukan tabung oksigen.

Virus Omicron merupakan mutasi dari Covid-19. Melansir dari CNBC, varian ini pun sudah bermutasi. Di mana setiap kali ada pemutakhiran jenis varian Covid-19, akan selalu lebih menular dari varian sebelumnya. Lantas, apakah kita sudah siap akan hal ini? Bagaimana menyikapi kedatangan virus yang sudah 3 tahun masuk ke Indonesia ini? Mari kita ulas bersama.

Gelombang 3 Omicron banyak terjadi karena ini

Ilustrasi mobilitas tinggi saat pandemi
[Sumber gambar]
Tercatat sejak bulan Januari 2022, Indonesia sudah tersibukkan oleh Omicron. Bermula dari ibukota Jakarta, kemudian menyusul daerah-daerah lain di Pulau Jawa dan provinsi lainnya. Faktor utama yang menyebabkan hal ini menyebar dengan cepat adalah mobilitas penduduk yang tinggi. Baik itu wisata, bisnis, atau perjalanan lainnya yang menjadi transmitter tidak langsung.

Faktor kedua adalah protokol kesehatan yang kurang mumpuni. Banyak kita ketahui bahwa tidak semua orang menggunakan masker dengan cara yang benar. Misalnya masih turun di bawah hidung atau kurang rapat dalam melindungi hidung dan mulut. Selain itu, masih banyak terjadi kontak fisik tanpa memperhatikan jarak dan kebersihan tangan sebelum saling berinteraksi. Hal sepele, tapi bila kita perhatikan betul-betul maka bisa mencegah dari penularan yang lebih masif.

Strategi Kemenkes atasi gelombang 3 Omicron

Ilustrasi pemberian vaksin Omicron
[Sumber gambar]
Berkaca dari kondisi Indonesia tahun 2020 dan gelombang kedua di 2021, tahun ini kita terbilang lebih siap dalam menghadapi gelombang ketiga ini. Bila sebelumnya bahkan banyak rumah sakit dan tenaga kesehatan kolaps, kini situasinya jauh lebih terkontrol. Hal ini juga tidak lepas dari peran pemerintah melalui Kementerian Kesehatan yang lebih strategis dalam menghadapi kedatangan gelombang baru.

Pertama, jauh-jauh hari Jubir Kemenkes sudah memberikan peringatan tentang Omicron sejak November dan Desember 2021. Meski gejalanya seperti flu, masyarakat tetap perlu menegakkan protokol kesehatan. Kedua, separuh warga negara telah mendapatkan vaksin minimal dosis pertama. Idealnya memang sampai di vaksin booster, tapi banyaknya jumlah warga yang vaksin juga menunjang tingkat keparahan penyakit yang tidak lebih berat.

Berikutnya adalah fasilitas penunjang yang Kemenkes berikan, di antaranya fasilitas telemedicine dan keringanan biaya berobat dengan klaim voucher bila swab PCR di lab yang berafiliasi dengan Kementerian Kesehatan. Sehingga meski sebagian besar warga isolasi mandiri di rumah, tetap bisa mendapat pengobatan dengan aman dan nyaman.

Varian virus Omicron yang tengah jadi perhatian peneliti

Salah satu penyebab banyak orang yang terpapar Omicron adalah karena menelan mentah-mentah bahwa virus ini ‘seperti flu biasa’. Walau hal ini tidak salah, tapi yang tidak kita sadari adalah gejalanya saja seperti flu, tapi intensitasnya punya karakter sendiri. Misalnya, pada orang dengan komorbid yang malah bisa memperburuk kondisinya.

Selain itu, banyak yang berpikir bahwa varian ini akan menjadi virus terakhir, sehingga nantinya akan menjadi endemi atau malah seperti flu musiman. Sementara itu saat ini dunia tengah memantau dengan serius varian BA.2 atau ‘Son of Omicron’. Virus tersebut memiliki penularan lebih tinggi daripada Omicron yang serangannya saja sudah semasif sekarang.

Lebih jauh tentang BA.2 apakah berbahaya?

Ilustrasi bahaya varian virus omicron
[Sumber gambar]
BA.2 sudah tersebar di 57 negara, termasuk Indonesia yang menurut Siti Nadia Tarmizi, sudah melaporkan 55 orang dengan kasus virus tersebut. Salah satu gejala yang muncul karena Son of Omicron ini adalah kepala seperti berputar, atau vertigo. Selain itu tubuh juga merasakan kelelahan yang cukup ekstrem. Namun seberapa berbahaya virus ini dari pendahulunya, masih dalam tahap penelitian.

Meski demikian, waspada tetap menjadi salah satu senjata kita. Karena kebanyakan lonjakan penyakit ini terjadi di masa mobilitas sedang tinggi-tingginya, seperti adanya tanggal libur, hari besar, bahkan sempat ada PTM di mana sebagian besar siswa yang sudah maupun belum vaksin berpotensi terpapar. 

Artinya, sampai saat ini salah satu cara terbaik untuk mencegah penularan adalah dengan meminimalisir adanya interaksi yang terlalu ramai dan secara langsung. Karena meski Omicron ringan, tetap bisa memberikan penularan yang masif. Tentu saja kita tidak ingin hal ini terjadi bila BA.2 sampai ke Indonesia. 

Cara menghadapi gelombang 3 Omicron sebagai masyarakat awam

Daya tular Omicron sangat cepat dan luas. Dalam satu rumah, seluruh anggota keluarga bisa tertular secara bergantian adalah kondisi yang saat ini banyak terjadi. Meski begitu, bukan berarti kita ‘menunggu giliran’. Masih ada banyak cara untuk bertahan dari penularan virus ini. Berikut ini di antaranya: 

  • melakukan protokol kesehatan dengan tepat dan ketat (penggunaan masker menutup hidung dan mulut serta rapat, hindari kerumunan, mencuci tangan)
  • membiasakan hidup bersih dan sehat. 
  • melakukan vaksinasi
  • berpikir antisipatif meski sudah vaksin, kondisi di luar terlihat baik-baik saja atau kasus penularan mulai melandai. 
  • menyegerakan tracing bila ada konfirmasi positif atau kontak erat. 

Infografis Tentang Omicron Indonesia - GSI

Swab PCR masih menjadi salah satu kebutuhan di masa pandemi ini. GSI Lab menyediakan beragam fasilitas PCR dan antigen sesuai dengan harga standar yang ditetapkan pemerintah. Selain itu, kita juga bisa membantu sesama warga yang membutuhkan swab dengan program swab and save

BACA JUGA: Kasus Omicron Jakarta Lewati Puncak, Bagaimana Daerah Lain yang Meningkat?

Dengan program tersebut, pengguna yang tidak mampu bisa mengajukan diri untuk mendapatkan swab gratis. Sedangkan bagi kita yang ingin berdonasi langsung, bisa juga untuk ikut berbagi melalui program kebaikan di sini

Jangan menyerah untuk tetap ‘covirgin’ alias covid virgin bila memang kita masih memiliki kenikmatan belum terpapar Covid-19. Jangan pula merasa kebal meski sudah vaksin dan pernah terinfeksi. Banyak penyintas Omicron yang merupakan alumnus dari generasi sebelumnya juga. 

Dari sini kita bisa melihat bahwa kewaspadaan dan protokol kesehatan adalah utama. Herd immunity tidak berarti kita menunggu semua orang terpapar sehingga menjadi kebal dengan penyakit tersebut. Ada banyak orang tua dan sesama kita yang memiliki imunitas lebih rentan yang juga bisa menjadi ‘korban’ kelengahan kita pada virus Corona. 

Stay safe, tetap lakukan protokol kesehatan dan tetap waspada akan virus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *