Kopi menjadi salah satu minuman favorit di Indonesia yang konsumsinya bisa hampir setiap hari. Kemudahan ini membuat banyak orang dengan cepat menerima informasi bahwa kopi, bisa mencegah dan mengobati Covid-19.

Namun, benarkah demikian?

Dalam sebuah postingan di jejaring sosial Facebook dan Twitter, menyebutkan kalau kafein bisa membunuh virus Corona dan menghambat penyebarannya. Apalagi hal ini sempat digaungkan oleh salah satu akun medsos seorang dokter.

Secara teknis dan ilmiah, beberapa pakar dari Indonesia menjelaskan bahwa hal tersebut belum terbukti kebenarannya. Covid-19 adalah penyakit yang kompleks dan masih dalam penelitian. Bahkan saat ini virus tersebut telah bermutasi menjadi lebih menular.

BUkan kopi, tapi kafein yang sedaang dalam penelitian untuk Covid-19

Dr. Dyah Novita Anggraini dari klikdokter menelaah adanya kekeliruan fokus. Di mana yang tengah melalui proses simulasi dan riset adalah kafein, bukan kopinya. Ia juga menegaskan bahwa penelitian ini belum terbukti keefektivannya, karena masih melalui tahap insilico atau simulasi komputer. Artinya, kafein masih belum terbukti secara klinis. Di mana tahap klinis terdiri dari beberapa langkah di mana zat atau obat tersebut telah diujicobakan pada manusia.

WHO sendiri hingga kini menyatakan bahwa belum ada obat tertentu yang bisa mengobati Covid-19. Segara proses medis yang terjadi di dunia saat ini masih dalam pemantauan dan penelitian lebih lanjut. Kendati sempat ada beberapa merek, sangat tidak dianjurkan untuk melakukan pengobatan mandiri tanpa pengawasan medis.

Kafein masih dalam penelitian, belum terbukti klinis mengatasi covid-19

Selain itu, besarnya tekanan dan ketakutan akan pandemi saat ini membuat banyak orang melakukan mekanisme pertahanan diri. Salah satunya dengan cepat menyepakati informasi yang sesuai dengan persepsi mereka terhadap pandemi ini.

Misalnya, bahwa Covid-19 tidak separah itu dan bisa disembuhkan dengan terapi sederhana. Namun pada kenyataannya, virus ini bisa menimbulkan reaksi dan tingkat keparahan berbeda pada tiap orang. Jadi, sebaiknya kita tetap berkonsultasi dengan medis terkait pengobatan yang benar atau seputar alternatif yang sering beredar di media sosial.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *