Jenis vaksin yang masuk ke Indonesia telah bertambah satu lagi, setelah di umumkan oleh Kementrian Kesehatan RI (11/9). Indonesia telah menerima sebesar 500.000 pasokan vaksin Janssen dari Johnson & Johnson atau biasa disingkat J&J. Jenis vaksin ini berasa dari belanda bersama beberapa alat pelindung diri (APD).

Vaksin ini diketahui telah mendapatkan izin penggunaan darurat (EUA) dari  Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI sejak Selasa (7/9) lalu. Penggunaan vaksin jenis ini ditujukan untuk kelompok usia 18 tahun ke atas.

Dengan adanya vaksin ini, penanganan pemerintah Indonesia diharapkan dapat mempercepat dan memperluas cakupan vaksin agar terealisasi. Lantas apa saja yang perlu kita ketahui mengenai vaksin J&J? Mari kita simak ulasan berikut!

Vaksin J&J menggunakan platform sama seperti AstraZeneca-Oxford

positif covid setelah vaksin pertama
Positif Covid setelah vaksin pertama

Vaksin dari Belanda ini menggunakan jenis platform adenovirus. Jenis virus ini yang menjadi penyebab batuk dan pilek. Adenovirus sendiri merupakan platform yang sama digunakan oleh vaksin Vaxzevira buaan AstraZeneca-Oxford. Badan Pengawas Obat Dan Makanan Asal Amerika (FDA) menyatakan bahan-bahan vaksin ini meliputi:

  • Asam sitrat monohidrat
  • Etanol
  • Trisodium sitrat dihidrat
  • 2-hidroksipropil-β-siklodekstrin (HBCD)
  • Polisorbat-80
  • Natrium klorida
  • Dan terakhir Adenovirus tipe 26 rekombinan yang tidak dapat mereplikasi diri dan yang mengekspresikan spike protein virus corona SARS-CoV-2 penyebab COVID-19

Adenovirus digunakan sebagai alat untuk mengantarkan gen strain SARS-CoV-2 ke sel manusia. Kemudian , sel ini memproduksi protein SARS-CoV-2 untuk memanipulasi virus untuk mempersiapkan sistem imun menghadapi Covid-19 jika terpapar.

Hanya butuh satu dosis, seberapa efektif vaksin J&J?

Tidak seperti vaksin Covid-19 lain yang membutuhkan dua dosis suntikan, vaksin J&J hanya membutuhkan satu dosis penyuntikan saja. Selain itu penyimpanan vaksin ini tergolong mudah, dengan suhu 2-8 derajat Celcius. Kemenkes menyampaikan vaksin ini diberikan untuk kategori kelompok usia 18 tahun ke atas. Vaksin J&J diberikan deengan dosis 0,5 mililiter (ml) dalam satu dosis suntikan.

Efisiensi J&J telah terbukti tinggi dalan uji klinis tahap ketiga pada Juni 2021 lalu. Dalam studi ini melibatkan hampir 40.000 partisipan yang menyatakan bahwa baksin ini dapat mengangkal covid-19 ringan hingga sedang sampai 66,3 persen dan Covid-19 berat sekitar 776,3 persen, setelah 14 hari vaksinasi.

Efektivitas pada varian Delta

Elain efiktivitas yang tinggi pada virus Corona tipe awal, studi J&J yang diterbitkan lewat New England Journal of Medicine vaksin ini ampuh terhadap varian baru. Jenis varian tersebut seperti B.1.351 (Beta) dan P.2 (Gamma). Kemudian untuk varian yang termasuk dominan di dunia saat ini varian B.1.617.2 (Delta), J&J menyatakan bahwa vaksin ini tidak kalah efektif.

Adanya kontroversi pembekuan darah

Pada bulan April lalu, CDC atau  Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat sempat menghentikan pemberian vaksin ini. Hal tersebut lantaran adanya laporan kasus pembekuan darah (thrombosis) dengan sindrom trombositopenia 1-2 minggu setelah suntikan. Saat itu, sekitar 6,8 juta dosis vaksin J&J tekah dibagikan.

Namun pemberhentian vaksin tersebut hanya sementara. Pada 23 April 2021, vaksin ini telah kembali diizinkan karena CDC dan FDA menyatakan manfaat vaksin ini jauh lebih daripada risikonya. Ini juga lantaran, kasus thrombosis dengan sindrom trombositopenia pada vaksin J&J tergolong kasus langka. Mereka menjelaskan beberapa kasus tersebut lantaran para patisipan mengalami karena kondisi penyerta memicu hal tersebut.

Efek samping yang perlu diwaspadai

Secara menyeluruh, vaksin J&J tergolong aman karena menyelesaikan uji klinis. Badan Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan vaksin J&J. Menurut uji klinis tahap tiga, J&J menyampaikan beberapa efek samping setelah vaksinasi, seperti mual, demam, sakit kepala, kelelahan, dan malaise. Selain itu ada juga reaksi lokal di lokasi suntikan, seperti kemerahan, nyeri, bahkan bengkak. Namun, gejala tersebut umumnya hilang setelah beberapa hari.

Akan tetapi ada beberapa efek samping yang cukup parah seperti, reaksi alergi, sindrom Sindrom pascavaksinasi, seperti sakit kepala, demam, dan kelemahan (1 kasus). ada pula kasus bell’s palsy (2 kasus), sindrom guillain-barre (1 kasus), perikarditis (1 kasus), dan radikulitis brakialis (1 kasus).

BACA JUGA: Setelah Vaksin, Konsumsi 4 Hal Ini Agar Tetap Fit dan Mengurangi Potensi KIPI

Kamu perlu mewaspadai ketika memiliki alergi parah ketika ingin mendapatkan vaksin ini. Pastikan untuk terbuka dengan layanan kesehatan mengenai kondisi kesehatanmu. Segera vaksinasi, agar bersama-sama kita memutus mata rantai Covid-19.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *