Omicron BN 1 disebut-sebut sebagai sub varian baru virus Covid-19 dari varian Omicron. Seperti apakah ciri-ciri dan gejala Omicron BN.1 ini, apakah sama seperti subvarian Omicron XBB? Ketahui ulasannya di sini.

Sejak kemunculan pertamanya di Wuhan, China, virus Covid-19 telah bermutasi sedemikian rupa. Virus Covid-19 menular dengan cepat melalui kontak langsung dengan droplets orang yang terinfeksi melalui batuk dan bersin atau menyentuh permukaan benda yang terkontaminasi virus. Virus ini bahkan dapat bertahan di permukaan selama beberapa jam. Secara umum gejala Covid-19 akan muncul dalam 2-14 hari setelah terpapar virus.

Saat terinfeksi virus Covid-19, seseorang bisa mengalami gejala ringan hingga berat, tergantung pada kondisi kekebalan tubuh serta penyakit penyerta yang melatarbelakanginya. Adapun gejala yang mungkin muncul selama terinfeksi Covid-19 cukup beragam, berikut adalah gejala yang paling umum:

  • Demam
  • Nyeri otot dan tubuh
  • Batuk
  • Sesak napas
  • Kesulitan bernapas
  • Kelelahan
  • Sakit kepala
  • Kehilangan penciuman
  • Sakit tenggorokan
  • Hidung tersumbat atau berair
  • Mual dan muntah
  • Diare

Karena virus yang terus menerus bermutasi, gejala yang dialami juga sangat mungkin berbeda mengikuti strain yang ada.

Perkembangan virus Covid-19

ilustrasi perkembangan covid-19
Sumber gambar

Virus selalu berubah dan menyebabkan munculnya varian atau strain baru. Varian baru biasanya tidak memengaruhi cara kerja virus, namun membuat virus bertindak dengan cara yang berbeda misalnya bagaimana virus terhadap kekebalan tubuh, atau efektivitas perlindungan vaksin.

Virus pertama L dan S

Sejak kemunculannya di akhir tahun 2019, para peneliti telah memulai penelitian varian virus. Virus pertama dikenal dengan nama L dan S yang memiliki ciri yang sangat mirip dan diduga menjadi awal berkembangnya pandemi.

Virus Alpha (B.1.1.7)

Seiring dengan penyebarannya, virus Covid-19 pertama berkembang di negara lain dan dikenal dengan istilah virus Alpha, yang muncul di akhir tahun 2020. Para ilmuwan memperkirakan bahwa mutasi virus ini 70% lebih mudah menular dan menyebar dengan cepat.

Beta (B.1.351)

Varian virus Beta ditemukan di beberapa negara termasuk Afrika Selatan dan Nigeria. Varian ini juga lebih mudah menyebar daripada virus pertamanya serta menyebabkan gejala yang lebih buruk.

Gamma (P.1)

Varian Gamma pertama kali muncul di Januari 2021 dari warga negara Brazil yang bepergian ke Jepang. Varian ini kemudian menyebar ke Amerika dan diduga lebih menular dibandingkan varian sebelumnya.

Delta (B.1.617.2)

Varian delta pertama kali ditemukan di India pada Desember 2020, yang menyebabkan gelombang kasus yang sangat besar di sebagian besar negara di dunia, termasuk India dan Indonesia. Masih lekat di ingatan bahwa banyak korban yang berjatuhan dan meninggal akibat varian ini, baik dari tenaga medis maupun masyarakat.

Mu (B.1.621)

Varian Mu Adalah varian yang pertama kali ditemukan di Januari 2021 di Kolombia. Namun penyebarannya berhasil dikendalikan.

Varian R.1

Ilmuwan mendeteksi varian R.1 di beberapa negara dan sempat menyebabkan lonjakan kasus di Kentucky pada Maret 2021.

Varian Epsilon, Theta dan Zeta

Varian ini sempat disebut sebagai varian baru namun tidak menyebabkan lonjakan kasus yang cukup tinggi, sehingga berada di bawah pengawasan WHO.

Varian Omicron (B.1.1.529)

Varian Omicron atau B.1.1.529 pertama kali dideteksi di Botswana pada November 2021, dan terus menyebar ke seluruh dunia. Hingga saat ini, varian Omicron adalah jenis varian yang mendominasi hampir seluruh kasus Covid-19 di dunia. Seiring penyebarannya, varian ini bermutasi menjadi subvarian BA.1, BA.2, BA.2.12.1, BA.4, BA.5, XBB, XBC dan kini ada subvarian BN.1.

Omicron BN.1 seperti apa gejalanya?

ilustrasi gejala Omicron BN 1
Sumber gambar

Subvarian Omicron BN.1 muncul setelah subvarian XBB dan XBC sempat membuat sebagian besar negara di dunia meningkatkan kewaspadaannya. CDC menambahkan subvarian Omicron BN.1 sebagai virus yang tengah dilacak. Diperkirakan bahwa strain ini telah menyebabkan infeksi baru yang umum ditemukan di Amerika Serikat. BN.1 adalah turunan Omicron dengan nama panjang B.1.1.529.2.75.5.5.1, yang bahkan muncul sebagai varian baru di musim panas. Dikatakan pula bahwa subvarian BN.1 memiliki potensi tinggi untuk lolos dari kekebalan tubuh yang terbentuk dari infeksi sebelumnya dan maupun vaksinasi yang telah didapatkan, sehingga berpeluang menyebabkan lonjakan kasus infeksi Covid-19 yang baru.

Selain dideteksi di Amerika, dilansir www.nzherald.co.nz bahwa subvarian BN.1 telah menyebar di lebih dari 30 negara di dunia, termasuk Australia, Inggris, India, Denmark, Jerman, Irlandia, Singapura, Jepang, Korea Selatan dan Austria.

Hingga saat ini sebenarnya belum ada pernyataan resmi dari Kementerian Kesehatan RI terkait subvarian Omicron BN.1 yang masuk ke Indonesia. Pun demikian, bukan tidak mungkin bila subvarian ini juga bisa masuk ke Indonesia mengingat saat ini di beberapa negara di Asia terdekat juga sudah ditemukan subvarian ini. Apalagi saat ini mobilitas masyarakat di Indonesia sedang tinggi dengan banyaknya kegiatan masyarakat yang mulai ada di sana sini.

Terkait dengan tingkat bahaya subvarian Omicron BN.1, para ilmuwan menemukan bahwa BN.1 memang sangat menular dibandingkan subvarian sebelumnya. Kemungkinan untuk lolos dari kekebalan yang diperoleh dari infeksi sebelumnya dan vaksinasi yang telah didapat lebih tinggi daripada varian yang pernah ada. Untuk itu, masyarakat dihimbau untuk tetap waspada terhadap gejala subvarian Omicron BN.1.

Berikut adalah gejala subvarian Omicron BN.1 yang sebaiknya diwaspadai:

  • Sakit tenggorokan
  • Suara serak
  • Batuk
  • Kelelahan
  • Hidung tersumbat
  • Pilek
  • Sakit kepala
  • Nyeri otot

Cegah penularan subvarian Omicron XBB, XBC dan BN.1, begini caranya

ilustrasi cuci tangan
Sumber gambar

Seperti yang telah disebutkan bahwa mutasi virus tidak mengubah cara penularan sebuah virus, maka untuk mencegah tertular subvarian Omicron XBB, Omicron XBC maupun Omicron BN.1 maka cara terbaik untuk dilakukan adalah mempraktekkan pola hidup bersih dan sehat serta meningkatkan protokol kesehatan.

Cara terbaik untuk mencegah penularan yang pertama adalah sering-sering mencuci tangan dengan benar. Cuci tangan dengan membasahi tangan di bawah air mengalir, kemudian menggosok dan seluruh bagian tangan termasuk sela-sela jari, punggung tangan dan sela-sela kuku setidaknya selama 20 detik. Anda juga perlu membasuh di bawah air mengalir dan mengeringkan tangan dengan baik menggunakan tisu.

Segera cuci tangan setelah bersin atau batuk sebelum menyentuh benda apapun. Jika memang tidak ada akses sabun dan air bersih saat itu, maka Anda perlu menggunakan hand sanitizer dengan kandungan alkohol minimal 60%.

Langkah selanjutnya adalah menggunakan masker dengan benar, yang menutupi mulut dan hidung. Cuci tangan sebelum menggunakan masker, dan cuci tangan kembali setelah melepaskannya, terutama bila Anda baru saja bepergian ke tempat di mana banyak orang berkumpul. Setelah masker selesai digunakan, maka buang masker dengan cara yang benar. Masukkan masker bekas ke dalam plastik dan jangan mencampurnya dengan sampah lain.

BACA JUGA: Setelah XBB Kini Muncul Varian Omicron XBC, Seperti Apa Bahayanya?

Yang tidak kalah penting adalah menjauhi kerumunan dan menjaga jarak saat harus berada di tempat umum. Ikuti pula jadwal vaksinasi booster yang ada di sekitar lingkungan Anda, sehingga tubuh tetap mendapatkan perlindungan dari varian-varian Covid-19 yang sudah ada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *