Panic attack atau serangan panik merupakan salah satu gejala psikologis. Orang yang mengalaminya bisa merasakan gelisah dan takut yang sangat intense hingga jantung berdebar, gemetaran, ketegangan hingga nafas menderu sangat cepat dan rasa berkecamuk.

Karena kondisi gelisah ini, beberapa orang menyamakannya dengan anxiety atau kecemasan. Tapi, sesungguhnya dua hal ini adalah kondisi berbeda meski sama-sama merupakan gejala psikologis. Berikut ini penjelasannya.

Mengenal serangan panik atau panic attack

ilustrasi wanita mengalami panic attack
Sumber gambar

Seperti namanya, serangan panik adalah kondisi di mana orang tersebut mengalami gejala panik yang biasanya terjadi secara tiba-tiba karena faktor yang subjektif. Penyebab utama respon ini adalah adanya trauma, stres, sedang mengalami persoalan yang rumit, kekecewaan yang berat, sensory overload, hingga manajemen emosi.

Proses munculnya kepanikan adalah ketika seseorang berada dalam kondisi yang bahkan sebenarnya tidak membahayakan atau menegangkan, namun berkorelasi dengan pengalaman trauma atau memori tertentu. Contohnya saat orang dengan memori perang dan mendengar kembang api, atau kontak fisik seperti belaian tangan yang dapat mengingatkan pada pelecehan. Otaknya merespon dengan memerintahkan tubuh untuk menghindar atau melawan.

Tubuh kemudian menghasilkan adrenalin sehingga orang tersebut mulai panik. Nafasnya menjadi pendek-pendek dan cepat, irama jantung lebih cepat, tegang, tremor atau gemetar. Bisa juga terjadi reaksi yang membuat orang tersebut malah lemas, pusing dan pingsan.

Bedanya dengan kecemasan

Seperti yang sempat kita singgung pada poin sebelumnya, kecemasan atau anxiety lebih memiliki pemicu yang spesifik. Misalnya gangguan cemas saat berada di antara banyak orang atau berada di ketinggian. Gejala yang nampak memang mirip, namun memiliki luapan yang tidak lebih impulsif.

Sedangkan serangan panik bisa terjadi di mana pun dan kapanpun, karena orang tersebut bertemu dengan situasi atau melihat sesuatu yang mengingatkan pada pengalaman sensorik dan emosional pribadinya. Reaksinya pun bisa lebih impulsif dan reaktif, misalnya berbarengan dengan ketakutan yang luar biasa, menjerit, menangis bahkan tak sadarkan diri.

Efek samping panic attack

Panic attack bisa sangat mengganggu orang yang mengalaminya, karena bisa terjadi kapanpun dalam keadaan sekolah, bekerja, tidur atau di antara orang banyak. Orang tersebut juga semakin kesulitan karena merasa menjadi pengganggu bagi sekitarnya.

Kondisi ini sebenarnya menjadi indikator adanya beban psikis yang sedang ia tanggung. Oleh sebab itu, mereka memerlukan bantuan dan dukungan dari orang-orang terdekat dan profesional di bidang permasalahan psikologi.

Kapan sebaiknya ke dokter?

ilustrasi konsultasi kesehatan
Sumber gambar

Orang yang mengalami serangan panik atau panic attack ada yang bisa mengatasinya seiring waktu, namun ada juga yang perlu mendapat bantuan psikolog maupun psikiater. Terutama bila gejalanya sudah mengganggu dan membahayakan diri sendiri atau orang lain.

Misalnya membuat penderita ingin melukai diri sendiri, susah tidur atau sering tak sadarkan diri. Perlu diketahui bahwa serangan panik juga dapat memunculkan kondisi seperti serangan jantung atau sesak nafas.

Karena itu, bila mendapat penanganan dari dokter, setelah melakukan observasi gejala, biasanya pasien perlu melakukan tes rekam jantung hingga pengecekan tiroid. Kemudian melanjutkan dengan pemeriksaan psikologis yang berbasis pada Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5).

Pengobatan untuk serangan panik

Panic attack bisa berlangsung berulang-ulang dan untuk menangani hal tersebut, memerlukan terapi khusus. Ada beberapa metode yang bisa dilakukan sendiri maupun dengan bantuan psikolog maupun psikiater.

Berikut ini adalah cara yang bisa pasien terapkan saat mulai mengalami serangan panik:

  • Berlatih mengatur nafas adalah teknik di mana kita menghirup nafas dalam-dalam secara perlahan dalam beberapa waktu, kemudian melepaskannya dengan tempo perlahan dan waktu lebih panjang.
  • Melakukan grounding, di mana pasien dapat mengalihkan fokus pikirannya pada beberapa hal lain yang ada di sekitarnya saat kepanikan terjadi. Misalnya dengan mengalihkan pandangan, menghitung sesuatu atau orang lain di sekitar membantunya untuk mengalihkan fokus tersebut.

Selain itu, pasien juga dapat melakukan aktivitas suportif sebagai bentuk terapi. Misalnya mengikuti kelas untuk mengelola emosi, berolahraga bersama, melakukan kegiatan yang positif baik secara individu maupun kolektif. Bila perlu, pasien mungkin akan mendapatkan terapi obat-obatan dengan pengawasan dari dokter.

Jangan ragu mencari pertolongan ke ahlinya

ilustrasi dokter
Sumber gambar

Mendapat pertolongan dari psikolog maupun psikiater bukan berarti mengalami ‘gangguan jiwa’ dengan konotasi negatif yang melekat di masyarakat. Sama seperti halnya ketika semua orang dapat terserang penyakit badan, kita semua pun bisa mengalami gangguan psikologis.

Saat ini, sebagian masyarakat dan generasi muda sudah lebih terbuka dengan mental health atau kesehatan mental mereka. Hal ini juga karena adanya efek samping kemajuan teknologi dan gaya hidup yang kadang membuat kondisi psikologis rawan mengalami tekanan, trauma hingga ketidakseimbangan. Siapapun tak lepas dari kondisi tersebut, baik dengan gejala yang ringan maupun berat.

Serangan panik seringkali berasal dari pengalaman tak diinginkan atau kurang menyenangkan yang mana sulit untuk mengantisipasinya. Karena kejadian tersebut bisa jadi adalah bagian dari hal-hal yang tidak bisa kita kontrol.

Namun untuk bisa mengurangi tekanan tersebut, jangan ragu untuk minta bantuan orang terdekat atau psikolog maupun psikiater yang kita percaya. Ada beragam metode yang menyesuaikan dengan kondisi pasien. Misalnya konseling, terapi kelompok, terapi perilaku, maupun penggunaan obat bila memang perlu.

BACA JUGA: Anxiety Adalah Gangguan Kecemasan, Begini Penanganannya

Namun utamanya, kita akan mendapat bantuan dalam mencerna dan memahami masalah, serta melampaui setiap proses yang kita perlukan untuk bisa pulih dari gangguan psikologis yang tengah terjadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *