Raja Singa yang satu ini bukan Simba. Tapi penyakit kelamin yang bikin orang tersiksa.

Mendengar kata Raja Singa, orang mungkin akan mengaitkan dengan film animasi Hollywood, The Lion King dengan tokoh bernama Simba. Padahal ini adalah sebuah istilah medis untuk penyakit kelamin yang kerap menghantui manusia, terutama kaum pria.

Selain dengan nama Raja Singa, gangguan kesehatan ini juga mendapat sebutan umum Sifilis. Yang bikin khawatir, penyakit ini sering kali menginfeksi secara siluman, tidak terlihat, sehingga membuat penderitanya kurang waspada.

Apa yang menjadi penyebab Raja Singa?

ilustrasi penyebab raja singa
Sumber gambar

Tak ada asap kalau tidak ada api. Begitu juga dengan penyakit Raja Singa yang merupakan hasil dari serangan bakteri treponema pallidum. Bakteri ini menginvasi bagian tubuh manusia, terutama pada alat kelamin, kulit, mulut, bahkan sampai sistem saraf.

Saat menyerang tubuh manusia, bakteri treponema pallidum ini masuk ke dalam melalui selaput lendir yang biasanya ada pada mulut, vagina, serta kulit. Raja Singa bisa disebut sebagai penyakit yang mengkhawatirkan, bersifat kronis, bahkan bisa bertahan hidup dalam tubuh manusia dalam jangka waktu yang sangat lama.

Penyebaran bakteri treponema pallidum di dalam tubuh ini tergolong unik. Dalam rilisan artikelnya pada Maret 2022, Mayoclinic menyimpulkan, saat seseorang terjangkit penyakit Raja Singa atau Sifilis, bakteri yang masuk ke dalam tubuh tidak serta merta menimbulkan gejala. Sebaliknya, treponema pallidum akan tertidur untuk periode waktu tertentu hingga akhirnya terbangun dan mengakibatkan gangguan kesehatan.

Dunia medis memahami Raja Singa sebagai penyakit yang diakibatkan dari adanya hubungan seks. Penularannya di masyarakat adalah akibat dari aktivitas seksual, seperti melakukannya dengan banyak orang, tidak menggunakan alat pengaman (kondom), akibat hubungan seksual dengan sesama jenis, dan lain-lain.

Bukan hanya menyerang lapisan kulit, Raja Singa bisa timbulkan kerusakan serius

ilustrasi akibat raja singa
Sumber gambar

Mengapa Anda harus waspada tinggi terhadap penyakit Raja Singa? Alasannya adalah dampak yang bisa ditimbulkan oleh serangan bakteri treponema pallidum tersebut. Bila selama ini masyarakat mengetahui bahwa penyakit satu ini hanya menimbulkan gangguan pada lapisan kulit, ternyata ada ‘ekor’ dari serangan Sifilis dan itu sangat berbahaya. Komplikasi serius bisa terjadi dan menyebabkan beberapa penyakit kronis lainnya pada organ-organ tubuh vital, seperti jantung, otak, bahkan bisa menyebabkan seseorang kehilangan nyawa.

Wah, ternyata dampaknya sangat berbahaya sekali, ya. Saatnya untuk lebih serius menghadapi penyakit ini dengan mengetahui tanda-tanda untuk deteksi lebih dini, serta mengetahui bagaimana cara mengobati untuk menghentikan penularannya.

Tahap-tahap penularan dan gejala Raja Singa

Mari mengetahui lebih dalam tentang bagaimana Raja Singa lewat bakteri treponema pallidum menginvasi tubuh manusia. Beberapa hal yang harus Anda pahami tentang tahap penularan dan gejala Sifilis adalah sebagai berikut.

Sifilis Primer

Ketika seseorang terdampak Sifilis, ia akan mulai mengalami tahapan-tahapan penularan. Yang pertama adalah Sifilis Primer, dimana penderita akan mengalami luka pada bagian tubuh yang terjangkit infeksi awal.

Jangka waktu hingga munculnya gejala awal Sifilis ini adalah hari ke-10 hingga tiga bulan setelah tertular bakteri treponema pallidum. Beberapa gejala yang mulai terasa adalah munculnya luka kecil berbentuk bulan, dalam dunia medis disebut chancre. Luka ini muncul di area kelamin, anus, atau mulut dan bisa menyebabkan borok. Selain itu, penderita juga akan merasakan adanya benjolan atau bengkak pada kelenjar getah bening di pangkal paha.

Sifilis Sekunder

Pada tahap selanjutnya penyakit satu ini disebut sebagai Sifilis Sekunder. Penderita akan mulai mengalami gejala-gejala yang tidak mengenakkan, yaitu timbulnya ruam kulit berwarna merah atau coklat kemerahan.

Selain itu pada tahap Sifilis Sekunder ini infeksi treponema pallidum menyebabkan demam, sakit pada area luka, bengkaknya kelenjar getah bening, rasa lelah, tenggorokan yang sakit, hingga kemunculan tonjolan daging atau kutil pada daerah yang terinfeksi, yaitu mulut atau alat kelamin.

Sifilis Sekunder ini bakal terasa ketika memasuki dua hingga 10 minggu setelah munculnya luka akibat infeksi. Yang menarik, gangguan ini bisa hilang dalam beberapa minggu, namun bukan berarti sembuh. Bila bakteri treponema pallidum kembali bereaksi, gejala-gejala akan muncul lagi.

Sifilis Laten

Selanjutnya Raja Singa bisa berubah menjadi Sifilis Laten. Dalam tahap ini, penyakit akan tampak seperti menghilang, berdiam diri hingga bertahun-tahun. Sebelum Sifilis Laten ini orang yang terjangkit Raja Singa sebaiknya sudah waspada dan berupaya maksimal untuk menyembuhkan diri dengan bantuan dokter spesialis kelamin.

Bila penderita masih saja lengah, berharap atau menganggap bahwa dirinya sudah sembuh dengan sendirinya, itu salah kaprah. Di balik tidurnya, treponema pallidum tampaknya merencanakan gangguan kesehatan yang lebih dahsyat, yang akan muncul pada tahap selanjutnya.

Sifilis Tersier

Bila pada akhirnya penderita memilih untuk lengah, mengabaikan penyakit satu ini, baik secara diri sendiri dan medis, bersiaplah menghadapi serangkaian komplikasi yang merupakan bagian dari Sifilis Tersier.

Dalam tahapan ini pasien Raja Singa akan merasakan beban derita yang lebih berat dengan berbagai kerusakan pada organ tubuhnya. Bakteri treponema pallidum akan mulai merusak sistem saraf, mata, jantung, pembuluh darah, hati, hingga otak, bahkan sampai menggerogoti bagian tulang dan sendi.

Akibat dari serangan yang sangat masif dari bakteri treponema pallidum pada tahap Sifilis Tersier, manusia akan menghadapi dampak yang sangat merugikan kesehatannya. Mulai dari mati rasa, dementia atau pikun, gerakan otot yang tidak terkendali, kebutaan secara bertahap, hingga bermuara pada ketidakmampuan menggerakkan bagian tubuh atau lumpuh.

Raja Singa bisa diobati, dan harus Anda lakukan untuk hindari gejala yang lebih parah

ilustrasi pengobatan raja singa
Sumber gambar

Sudah tahu, kan, kalau kita tidak boleh memandang Raja Singa sebelah mata. Karena itu, wajar bagi siapa pun yang mengalami gejalanya untuk melakukan langkah pencegahan. Menghentikan penularan dengan stop berhubungan seksual terlebih dahulu dan berkunjung ke dokter untuk mendapatkan bantuan pengobatan.

Dokter akan memberikan pengobatan lewat beberapa cara berikut:

Antibiotik Penisilin

Sebagai pengobatan Raja Singa atau Sifilis yang terjadi kurang dari setahun, dokter akan menyuntik antibiotik penisilin dosis tunggal. Bila ternyata penyakitnya sudah bertahan lebih dari 12 bulan, dokter akan memberikan dosis tambahan. Pengobatan ini cukup aman dan umum digunakan, termasuk juga bagi ibu-ibu yang sedang mengandung.

Untuk penderita yang mengalami Neurosifilis, dokter akan melakukan pengobatan antibiotik penisilin dengan dosis harian secara intravena. Metode ini membantu untuk membunuh bakteri dan mengurangi rasa sakit akibat infeksi Raja Singa. Namun harus Anda ketahui bahwa antibiotik penisilin ini tidak bisa memperbaiki kerusakan tubuh sebagai akibat dari invasi treponema pallidum.

Untuk pengobatan ini harus berdasarkan resep dokter. Pasalnya, penisilin saat ini merupakan obat keras. Penggunaannya bisa menimbulkan efek samping ringan, seperti demam, sakit kepala, nyeri otot dan sendi. Tanpa pengawasan dari ahli kesehatan, penggunaan yang tidak sesuai dosis (berlebihan) bisa menyebabkan dampak buruk.

Pengobatan antibiotik lainnya

Selain dengan suntikan penisilin, dokter bisa melakukan pengobatan antibiotik lain untuk melawan Raja Singa. Tindakan ini adalah langkah lanjut bila ternyata pasien memiliki alergi terhadap penisilin. Beberapa jenis antibiotik yang membantu proses penyembuhan Raja Singa adalah:

Doxycycline

Untuk Sifilis tahap awal, pengobatan dengan Doxycycline adalah dengan konsumsi sebanyak 100 mg secara oral, dua kali sehari selama 14 hari. Namun bila sudah memasuki Sifilis Laten, penggunaan Docycycline akan diperpanjang hingga 28 hari.

Tetracycline

Dosis pengobatan Tetracycline untuk Raja Singa tahap awal adalah konsumsi sebanyak 50 mg secara oral setiap 6 jam sekali (empat kali sehari) selama 2 minggu. Untuk Sifilis Laten, dosis penggunaan Tetracycline hingga 30 hari.

Ceftriaxone

Pengobatan Raja Singa dengan Ceftriaxone adalah dengan dosis sebanyak 1 gram dengan cara intravena, lewat injeksi atau infus ke otot atau pembuluh darah. Pemberian Ceftriaxone adalah sekali sehari dengan rentang waktu antara 10 hingga 14 hari.

Sekali lagi, catatan yang harus jadi perhatian pasien Raja Singa, selama pengobatan harus menghindari kontak seksual hingga luka sembuh dan dokter memberikan izin. Pelanggaran terhadap ‘protokol’ ini bisa kembali menyebabkan infeksi pada luka tersebut.

BACA JUGA: Hipospadia adalah Kelainan, Ini Hubungannya dengan Ambiguitas Kelamin

Terapkan disiplin dalam pengobatan Raja Singa. Jalani hingga tuntas. Bila mencapai kesembuhan, ubah gaya hidup jadi lebih sehat dan bebas dari Raja Singa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *