Kasus reinfeksi Omicron semakin banyak ditemukan. Hal ini jadi pertanda pandemi Covid-19 masih ada. Lalu kenapa hal ini bisa terjadi dan apa sebaiknya yang perlu kita lakukan?

Istilah reinfeksi belakangan ini menjadi familiar seiring dengan maraknya kasus positif Covid-19 yang dialami oleh seseorang yang sebelumnya sudah pernah terjangkit. Termasuk juga mereka yang sudah menjalani vaksinasi tahap kedua. Merujuk kepada para pakar ternyata fenomena reinfeksi Omicron ini adalah sesuatu yang memang bisa terjadi.

Seperti yang dijelaskan oleh dokter spesialis paru, Dr. dr. Erlina Burhan, M.sc, Sp.P(K), ia mengatakan bahwa kasus reinfeksi Omicron bisa terjadi kepada penyintas yang pernah terinfeksi Covid-19 varian apa pun. Hal ini salah satunya disebabkan salah satu sifat varian Omicron yang memiliki kemampuan escape immunity atau bisa mengelabui sistem kekebalan tubuh.

Pendapat para ahli mengenai reinfeksi Omicron

Selain yang dipaparkan oleh dokter Erlina, para ahli yang lain juga mengemukakan hal yang senada. Misalnya Ketua Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dan RSUP Persahabatan, dr Prasenohadi, SpP, KIC, PhD. Ia mengatakan jika pada kasus Omicron seseorang bisa mengalami infeksi kembali atau reinfeksi.

Ilustrasi reinfeksi Omicron
[Sumber gambar]
Penyebabnya menurut dr Prasenohadi adalah ketika seseorang divaksinasi maka antibodi akan bisa melihat virus yang sedang dihadapi. Namun seiring berjalannya waktu antibodi tersebut akan berkurang, sehingga ada potensi untuk kembali terinfeksi. Fenomena ini menurut di Prasenohadi bisa ditangani dengan pemberian booster vaksin Covid-19.

Masih tentang reinfeksi Omicron, sebuah studi dilakukan oleh Imperial College London dan menghasilkan sesuatu yang cukup mengagetkan. Dikatakan pada studi tersebut bahwa reinfeksi Omicron lima kali lebih tinggi daripada varian lainnya. Hal ini memang terbukti pada kasus positif yang terjadi di berbagai belahan dunia.

Gejala reinfeksi Omicron

Para ahli mengatakan jika gejala reinfeksi Omicron tidak jauh berbeda dibandingkan ketika terkena pertama kali. Jika Anda pernah dinyatakan positif untuk varian Omicron, kemudian mengalami beberapa tanda ini, maka sebaiknya segera memeriksakan diri.

Ilustrasi sakit kepala Omicron
[Sumber gambar]

1. Sakit kepala

Tanda ini umum terjadi ketika mengalami reinfeksi Omicron. Untuk reaksi sakit kepalanya sendiri pun beragam. Misalnya nyeri sedang hingga berat, kepala terasa berdenyut hingga menusuk, hingga sakit kepala di kedua sisi. Biasanya sakit kepala ini akan dirasakan lebih dari tiga hari dan agak susah ditangani dengan obat sakit biasa.

2. Pilek

Selain sakit kepala, tanda reinfeksi Omicron yang paling sering dilaporkan adalah pilek. Tidak ada indikasi khusus untuk pileknya. Hanya saja ketika mengalami ini dalam waktu yang lama maka patut dicurigai sebagai gejala reinfeksi Omicron.

3. Sakit tenggorokan

Banyak laporan untuk kasus reinfeksi Omicron, gejala yang juga sering timbul adalah sakit tenggorokan. Biasanya ini berbarengan dengan pilek serta batuk. Namun umumnya sakit tenggorokan yang dirasakan cenderung ringan. Jika mengalami kasus sakit tenggorokan yang menyakitkan bisa jadi ini adalah kondisi kesehatan lain dan perlu segera memeriksakan diri ke dokter.

4. Batuk

Batuk menjadi tanda lazim bagi seseorang terindikasi positif Covid-19, bahkan sejak awal pandemi. Untuk mereka yang mengalami reinfeksi Omicron kurang lebih juga serupa. Biasanya untuk batuk yang terjadi adalah tipe batuk kering alih-alih berdahak dan gejala ini bisa berlangsung selama empat hingga lima hari.

Pencegahan terhadap reinfeksi Omicron

Reinfeksi Omicron memang lazim terjadi tapi bukan berarti sama sekali tidak bisa dihindari. Kita tetap mampu melakukan upaya agar hal tersebut tidak terjadi.

Pertama tentu adalah konsisten dengan protokol kesehatan yang digaungkan pemerintah sejak awal. Seperti yang kita tahu jika varian Omicron penyebaran jauh lebih cepat dan masif jika dibandingkan jenis sebelumnya. Maka untuk mencegah kita tertular atau terkena kembali adalah dengan mengetatkan protokol kesehatan.

Patuhi protokol kesehatan
[Sumber gambar]
Kedua adalah selalu memastikan kita beristirahat dengan cukup. Terutama untuk tidur malam yang jika waktunya minim maka sedikit banyak akan berpengaruh kepada kondisi imun kita. Selagi tidak beraktivitas dan butuh beristirahat maka disarankan untuk kita lakukan.

Ketiga adalah konsumsi makanan dan gizi yang seimbang. Ini penting untuk memperkuat kita dari dalam. Asupan vitamin juga tak kalah penting untuk menjaga diri kita.

Keempat adalah melakukan olahraga secara rutin. Hal ini bisa membuat metabolisme tubuh kita lebih baik yang secara berkesinambungan membangun kesehatan kita juga.

Reinfeksi Omicron, vaksin masih penting?

Tentu pertanyaan ini sering ditanyakan mengingat banyak kasus reinfeksi Omicron dialami oleh mereka yang sudah melakukan vaksinasi. Jawabannya adalah vaksin tetap penting bagi kita untuk melawan virus.

Infografis Tentang Omicron Indonesia - GSI

Hal ini dijelaskan oleh Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Alergi Imunologi, Iris Rengganis. Ia mengatakan meskipun banyak orang yang terkena Omicron meskipun sudah vaksin, bukan berarti vaksin tersebut tidak ada gunanya. Justru adanya vaksin menghindarkan seseorang dari keparahan penyakit hingga ancaman potensi Kematian.

Jadi bisa dikatakan vaksin masih jadi salah satu faktor kita bisa terhindar dari reinfeksi Omicron. Bahkan booster disebut seperti memperbaharui imunitas kita ketika vaksin satu dan dua mulai menurun performanya di dalam tubuh.

Selalu cek diri dengan Swab dan PCR

Tidak ada salahnya untuk selalu memastikan diri kita bebas dari virus. Caranya tentu adalah dengan melakukan tes Swab dan PCR. Hasil ini akan jadi modal penting untuk aksi kita selanjutnya. Jika negatif maka kita bisa lebih lega dan aman dalam keseharian. Jika hasilnya positif, maka kita bisa menghindari untuk menulari orang lain.

BACA JUGA: Gejala Sub Varian Stealth Omicron yang Perlu Anda Ketahui

GSI bisa jadi salah satu pilihan untuk Anda melakukan tes Swab dan PCR. Hasilnya akurat dan bisa didapatkan dalam waktu yang relatif cepat. Kita juga bisa membantu saudara-saudara dengan donasi menyediakan tes gratis melalui link berikut ini https://www.gsilab.id/id/swab-save/.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *