Peneliti belum berhenti mendalami tentang Covid-19 dan varian-variannya. Yang terbaru, mereka merilis temuan Deltacron Covid. 

Seperti namanya, kita yang awam sudah bisa menduga kalau ini merupakan strain perpaduan antara Omicron dan Delta. Rasanya penyakit ini seperti tak kunjung berakhir, namun situasi kompleks ini juga mendapat pengaruh dari perbedaan regulasi pemerintah, mobilitas serta kebiasaan masyarakat. 

Mari kita ulas apa itu Deltacron dan bagaimana virus-virus ini seperti bermutasi tiada akhir. 

Kenapa virus bermutasi jadi Deltacron Covid?

[sumber gambar]
Sejak turunnya angka kasus positif di masing-masing negara, publik mulai merasa bisa melonggarkan protokol kesehatan mereka. Seperti menurunkan masker, pergi berlibur atau bertemu orang lain tanpa prokes. 

Sementara, kondisi negara satu dengan lainnya bisa berbeda-beda. Ada yang mulai pulih, ada yang lebih lama bisa turun kasusnya, atau bahkan mengalami gelombang ke sekian. Seperti tak ada habisnya, hal ini menjadi kesempatan bagi virus untuk bermutasi. 

Virus yang mendapatkan inang dalam waktu lama, bisa berkembang biak menyalurkan DNA dan RNAnya pada jaringan sel yang sehat di tubuh seseorang. Kita memang memiliki imunitas, namun virus juga punya cara sendiri untuk beradaptasi dan mengelabui kekebalan tubuh kita. Pada proses inilah ada kemungkinan virus berhasil bermutasi sehingga tidak lumpuh oleh imunitas kita. 

Sementara itu, bila salah satu dari kita masih ‘menyimpan’ virus ini dan melakukan mobilitas tanpa protokol kesehatan, misalnya tanpa masker, berpotensi menyebarkan versi terbaru virus tersebut kepada orang lain. Bisa melalui droplet, bekas makan di piring yang sama atau minum di gelas yang sama, airborne di ruangan yang sama dan seterusnya. 

Dan bila penularan telah terjadi, hal yang sama bisa terjadi pada individu lain dengan kondisi yang berbeda tapi memberi kesempatan mutasi yang sama. Maka di kondisi ini, pembentukan varian baru akan bisa berulang terus menerus. Karenanya, mutasi virus sekarang seperti tak ada habisnya, karena Covid-19 memang sudah berpetualang ke seluruh dunia. Menggunakan masker nampak remeh, tapi sangat bisa mencegah hal ini. 

Mengenal Deltacron Covid si varian baru

Foto Leondios Kostrikis
[sumber gambar]
Kabar Deltacron Covid pertama kali muncul dari hasil penelitian Profesor Ilmu Biologi Universitas Siprus, Leondios Kostrikis, saat ia melakukan interview dengan TV lokal, Sigma. Kemudian media Bloomberg News mewartakan hal tersebut. 

Temuan varian Deltacron Covid-19 ada di Siprus, yakni sebuah negara di Laut Tengah, Selatan Eropa dan masih masuk ke dalam benua tersebut. Sesuai dengan namanya, varian ini memang merupakan gabungan Delta dan Omicron. 

Bukan sembarang menamai, Leondios Kostrikis menemukan ada kesamaan dengan struktrur Omicron sehingga ia memberi nama demikian. Varian yang ditemukan pada awal Januari 2022 ini masih dalam pendalaman dari 25 kasus yang memang sudah ada. 

Varian Deltacron mayoritas terdapat pada pasien yang mendapat perawatan di rumah sakit daripada yang tidak. Hasil temuan tersebut masih menunggu respon dari GISAID yang memiliki database internasional tentang Covid-19. 

Varian Delta yang ganas dan Omicron yang lebih menular

[sumber gambar]
Jika kita merujuk ke belakang, varian Delta memang terbilang lebih mematikan daripada Omicron. Meski sama-sama menular, tapi kasus Delta lebih menyebabkan angka pasien rumah sakit dan meninggal dunia yang lebih besar. 

Sedangkan Omicron saat ini juga masih dalam pemantauan. Kasus kematian yang tercatat dari seluruh dunia, termasuk Indonesia, memang lebih kecil. Namun ketika ada satu kasus saja, wilayah setempat memberlakukan lockdown sebagai antisipasi lonjakan yang lebih cepat. 

Memang belum ada penjelasan aspek mana yang menjadi warisan Deltacron dari kedua strain virus ini. Tapi, mencegah dengan menerapkan protokol kesehatan akan jauh lebih baik. Utamanya, kalau kita tinggal bersama lansia, orang dengan komorbid, hingga bayi dan anak-anak. Mengingat kasus Deltacron dominan muncul pada pasien di rumah sakit. 

Tanggapan peneliti lain tentang Deltacron Covid

Foto-Jeffrey Barret
[sumber gambar]
Karena varian Covid-19 dan temuan mutasinya bermunculan, beberapa peneliti merespon Deltacron Covid dengan lebih objektif. Seorang dokter dari WHO, Dr Maria Van Kerkhove, yang mendapat pertanyaan dari NBC Chicago mengatakan bahwa kemunculan nama ini seperti menimbulkan ‘kengerian’. Kita memang perlu menyadari bahwa virus belum selesai bermutasi selama pandemi, tapi sebenarnya Deltacron bukanlah nama resmi dari virus tersebut. 

Sejak kemunculan kabar Deltacron, sejumlah peneliti Covid, seperti Jeffrey Barrett, Head of Covid-19 Genomics Initiative di Britain’s Wellcome Sanger Institute dan virologist,Tom Peacock, mendapatkan pertanyaan tentang varian ini. Namun, beberapa agak ragu bahwa varian tersebut adalah kombinasi dari kedua strain antara Delta dan Omicron. Ada anggapan bahwa varian ini kemungkinan hasil kekeliruan analisa dari lab. 

Sementara, Kostrikis masih yakin bahwa ia sudah melakukan penelitian sesuai jujukan kedokteran dan menunggu hasil dari laporan temuannya itu. 

Deltacron Covid masih diteliti apakah patologis dan menular

[sumber gambar]
Munculnya varian Deltacron Covid ini membutuhkan waktu untuk mengenalinya. Menurut Kostrikis, yang sedang menjadi penelitian ialah apakah sifatnya patologis (menetap seperti penyakit bawaan) dan apakah lebih menular. 

Saat ini mengetahui sifat, bahaya virus dan kecepatan penularan virus menjadi salah satu hal penting, karena pandemi masih belum selesai. Sehingga seluruh dunia mencegah penularan varian baru yang mungkin memunculkan gelombang pandemi lanjutan.

Sebelum jadi gelombang lanjutan, lakukan hal ini lebih baik

[sumber gambar]
Varian virus Covid-19 belum nampak akan berakhir. Mindset paling tepat saat ini adalah tidak melonggarkan protokol kesehatan untuk mencegah penularan. Terutama menggunakan masker, sebagai penghambat transmisi virus dari tubuh kita kepada orang lain dan sebaliknya. 

BACA JUGA: Penyebaran Omicron Indonesia dan Bagaimana Cara Mencegahnya Menurut Para Ahli

Memang sulit untuk mengubah perilaku sehat satu dunia. Tapi kita bisa mulai dari diri sendiri dan circle terdekat. Setidaknya, kita menjaga orang-orang terdekat dan diri sendiri dari risiko yang lebih sulit seperti gelombang sebelumnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *