Belum habis kekhawatiran terhadap Omicron, kini muncul keturunan baru bernama Omicron XE. Apa saja bahayanya?

Virus Covid-19 varian Omicron terus menebar ancaman. Setelah varian awal, seperti Alpha, Beta hingga Delta mulai mereda, ragam baru ini muncul dan membuat dunia kebingungan. Bagaimana tidak, gara-gara Omicron Afrika bagian selatan terkena dampaknya karena laporan pertama dari kemunculan virus ini ada di sana. Hingga akhirnya beberapa bulan kemudian ada penelitian lain yang menyebut bahwa kemungkinan Omicron berasal dari salah satu wilayah di Eropa.

Terlepas dari mana datangnya, Omicron adalah problem umat manusia sedunia. Apalagi tingkat penularannya yang sangat cepat, meski para ilmuwan menyebut dampaknya lebih ringan dari varian-varian sebelumnya.

Muncul sub-varian baru Omicron XE, apakah lebih berbahaya dari Omicron?

Ilustrasi sub varian Omicron XE
[Sumber gambar]
Kini, ketika masyarakat mulai bersuka cita dan bersiap-siap mudik setelah beberapa tahun sulit untuk mewujudkannya, muncul kabar tak menyenangkan, yaitu kemunculan Omicron XE. Kehadiran sub-varian baru dari Omicron ini terdeteksi pertama kali oleh badan pengawas kesehatan Inggris.

Secara ilmiah, Omicron XE muncul karena adanya mutasi strain dari dua turunan varian Omicron sebelumnya, yakni BA.1 dan BA.2. Di dunia sains, bergabungnya dua varian yang membentuk satu jenis baru disebut sebagai varian rekombinan.

Berdasarkan catatan awal dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) lewat laporan epidemiologi COVID-19 mingguan pada akhir Maret lalu menunjukkan, Omicron XR memiliki tingkat pertumbuhan komunitas (community growth rate) 10 persen lebih tinggi dari varian Omicron BA.2. Meski begitu WHO mengingatkan bahwa angka tersebut belum mutlak dan membutuhkan konfirmasi lebih lanjut, termasuk juga tentang gejala dan tingkat penularan dari Omicron XE ini.

Seiring dengan laporan WHO, Kantor Statistik Nasional juga mengabarkan penemuan yang sama, yang menyebutkan bahwa tingkat pertumbuhan Omicron XE menjadi sekitar 10 persen di atas varian BA.2. Sama pula dengan WHO, Kantor Statistik Nasional juga mengingatkan bahwa kesimpulan ini adalah hasil dari penelitian awal. Menurut mereka, terlalu dini untuk menyarankan seberapa menularnya varian baru ini.

Omicron XE sudah ada di Inggris sejak awal 2022

Kapan dan bagaimana Omicron XE muncul? Berdasarkan laporan perdana, SARS-CoV-2 varian Omicron XE pertama kali terdeteksi di Inggris pada 19 Januari 2022. The Independent melaporkan bahwa pada tanggal 22 Maret 2022, sudah ada lebih dari 600 warga negara di Negeri Ratu Elizabeth tersebut yang terinfeksi Omicron XE. Selain itu, Badan Keamanan Kesehatan Inggris (UKHSCA), menyebut Omicron XE sebagai sebagai varian siluman karena kemampuannya untuk ‘bersembunyi’ dari deteksi lewat tes COVID-19.

Apa saja gejala Omicron XE yang perlu Anda ketahui?

Ilustrasi gejala omicron xe
[Sumber gambar]
Sebagai varian baru, penelitian tentang Omicron XE memang tak selengkap jenis-jenis Covid-19 sebelumnya. Namun tampaknya gejala yang timbul akibat Omicron XE ini mirip dengan Omicron varian awal.

Untuk Anda ketahui bahwa semenjak kemunculannya, gejala Omicron dan turunannya tak jauh dari tanda-tanda, seperti batuk, demam, kelelahan, dan adanya kemungkinan hilang indera perasa atau penciuman. Sebagian penderita Omicron lainnya juga mengalami gejala pilek, masalah pencernaan, sakit kepala, serta muncul ruam pada kulit.

Berdasarkan penelitian dari ZOE Covid-19, gejala Omicron XE adalah sebagai berikut:

  1. Sakit kepala
  2. Sakit tenggorokan
  3. Nyeri otot
  4. Demam
  5. Diare
  6. Mual
  7. Muntah
  8. Sakit perut

Berdasarkan penelitian awal, Omicron yang merupakan persilangan atau mutasi dari BA.1 dan BA.2, ini memiliki sifat yang sangat menular dan bisa saja memperburuk kesehatan seseorang meski sudah mendapatkan vaksin Covid-19.

Dengan penularan yang konon 10 kali lebih kuat dari Omicron generasi awal, masyarakat harus lebih waspada terhadap Omicron XE, terlepas dari seberapa parah gejala yang muncul akibat penyakit ini.

Per Maret 2022 lalu WHO menyebutkan bahwa Omicron XE termasuk sebagai kelompok varian Omicron. Namun hal ini bisa berubah bila ada perubahan signifikan sehingga memerlukan pengelompokan yang lebih lanjut. Untuk itu, pemantauan terhadap gejala dan tingkat penularan Omicron XE  akan terus dilakukan.

Ada satu kabar baik mengenai Omicron XE. Susan Hopkins, Kepala Petugas Medis Badan Keamanan Kesehatan Inggris (UKHSA) menarik kesimpulan bahwa varian rekombinan, seperti Omicron XE, biasanya mati ‘relatif cepat.’

Sub-varian Omicron memiliki gejala yang sama

Menurut Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kemenkes Republik Indonesia, dr. Siti Nadia Tarmizi, sub-varian Omicron, seperti XE, XD, dan XF tidak memiliki perbedaan gejala yang khusus. Hal ini terjadi karena ketiganya masih sejenis dengan varian awal Omicron. Yang membedakan hanyalah campuran materi genetik dari varian lain.

Bagaimana bisa muncul banyak sub-varian? Penularan yang sangat cepat memungkinkan seorang manusia untuk terinfeksi dua varian Omicron-Delta atau dua subvarian Omicron sekaligus dalam waktu bersamaan. Kedua virus itu kemudian saling berhubungan dan bermutasi membentuk varian baru. Meski penularannya belum seheboh Omicron, pemerintah berjanji untuk terus mewaspadai dan melakukan pemantauan lewat tes whole genome sequencing (WGS).

Salah satu yang patut dikhawatirkan mengenai varian XE ini adalah kemunculannya yang sudah menyentuh dataran Thailand dan Selandia Baru. Namun yang melegakan adalah penelitian yang menunjukkan bahwa XE tidak menimbulkan tingkat keparahan yang lebih tinggi daripada varian sebelumnya.

Tetap waspada, jaga kesehatan secara mandiri

Berbeda di awal kemunculannya, Covid-19 kini mulai bisa dijinakkan oleh imun tubuh sebagian besar manusia. Gejala dari varian ke varian berikutnya juga cenderung menunjukkan penurunan tingkat keparahan.

Meski begitu bukan berarti kita harus lepas dari waspada. Meski terinfeksi, Anda mungkin tidak mengalami gejala, atau hanya merasakan efek ringannya saja. Tetapi orang lain belum tentu bernasib sama. Oleh karena itu, demi kepentingan bersama, mari selalu menjaga, mulai dari diri sendiri.

Salah satu caranya adalah dengan mendeteksi keberadaan Covid-19 lebih dini. Lakukan tes PCR secara rutin. Untuk hasil yang akurat dan cepat, kunjungi GSI Lab, laboratorium uji untuk deteksi Covid-19 dengan standar dan kualitas tinggi, memberikan hasil pemeriksaan 24 hingga 48 jam setelah pengambilan sampel.

Manfaatkan juga program gratis tes swab PCR dari GSI Lab. Sebuah komitmen untuk menuju Indonesia yang lebih baik. Daftarkan diri secara online dengan mengunjungi gsilab.id/id/swab-save/, kemudian lengkapi persyaratan untuk tes swab PCR gratis bersama GSI Lab.

BACA JUGA: Tentang Reinfeksi Omicron dan Kenapa Hal Tersebut Bisa Terjadi

Kini Anda tahu apa dan bagaimana Omicron XE. Jangan lengah dan waspada untuk menghadapi sub-varian Omicron ini dengan selalu patuh protokol kesehatan dan memperkuat diri lewat vaksinasi Covid-19.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *