Swab antigen dan PCR adalah metode yang paling banyak membantu dalam proses tracing dan deteksi virus Corona yang tengah mewabah. Tapi, hasil yang keluar sering membuat orang heran. 

Virus Covid-19 memang merupakan jenis baru yang terus bermutasi sejak pertama kali muncul di 2020. Gejalanya pun terkadang tidak mudah kita telaah tanpa adanya swab test. Misalnya kasus OTG (Orang Tanpa Gejala) tapi ternyata hasil swabnya positif. 

Sambil melakukan pendalaman dan pengembangan, WHO bersama dengan para ilmuwan serta tim medis, masih menyepakati penggunaan swab PCR sebagai detektor paling efektif untuk mengetahui paparan virus Corona dalam tubuh manusia. 

Tapi, di lapangan kita masih sering menemukan kasus testee yang tidak terima atau mempertanyakan hasil swab mereka sendiri. Agar tidak bingung, mari kita pahami bagaimana swab PCR bekerja.

PCR adalah cara untuk mendeteksi virus

Kepanjangan PCR ialah polymerase chain reaction, sebuah metode atau cara untuk mengetahui paparan virus, bakteri atau sel lainnya dalam tubuh seseorang. Selain Covid-19, ada beberapa penyakit yang juga bisa terdeteksi dengan tes PCR. Di antaranya seperti, batuk rejan, HIV, HPV, dan Hepatitis. 

Saat ini, PCR banyak penggunaannya untuk skrining adanya virus Covid-19 dalam tubuh manusia. Karena efektivitas dan akurasi hasilnya yang bisa mencapai 70% melansir dari CNN, pernyataan Ahmad Rusdan Utomo, pakar biologi molekuler. Sehingga meski tidak 100% akurat, namun tetap menjadi gold standar hingga saat ini dalam instrumen pengecekan. 

Cara melakukan PCR adalah dengan swab 

[Sumber gambar]
Seperti penerapan yang sudah banyak terlihat di lapangan, swab PCR menggunakan metode usap atau swab test. Menggunakan alat berupa batang lidi dengan ujung kapas yang sangat kecil, sehingga bisa masuk ke dalam rongga mulut belakang dan hidung. Setiap alat swab untuk satu kali pakai. 

Pasien akan duduk dengan posisi kepala mendongak ke atas, kemudian petugas ber-APD akan melakukan swab dalam waktu kurang dari 15 detik. Untuk beberapa orang, swab bisa terasa tidak nyaman atau biasa saja, karena bagian dalam hidung dan tenggorokan memang sangat sensitif. 

Ikuti arahan dari tenaga kesehatan agar swab test bisa berjalan dengan lancar sesuai prosedur. PCR tidak menimbulkan efek samping, tapi metode swab bisa memberikan kesan cocok maupun tidak pada semua orang. 

Alternatif PCR kumur tanpa colok

Memahami bahwa metode swab atau usap terkesan menakutkan bagi sebagian orang. Para peneliti ilmuwan dari National Environmental Engineering Research Institute (NEERI) mencoba menemukan inovasi tes PCR dengan lebih nyaman. Yakni dengan metode kumur. 

Bukan hanya karena faktor kenyamanan, tapi juga keamanan. Swab test langsung yang sudah berjalan sejak lama, ternyata masih mengandung risiko paparan Covid-19 pada nakes yang bertugas. Dengan metode kumur, kita bisa melakukannya sendiri tanpa bantuan tenaga medis. Seperti namanya, teknik gargle alias berkumur ini bisa kita lakukan sendiri. Di Eropa, hal ini terkenal dengan sebutan throat flush test. 

Metode kumur PCR adalah dengan tabung berisi cairan

[Sumber gambar]
Jika tes PCR swab mengharuskan kita dicolok, yang bisa jadi kurang nyaman, PCR kumur bisa lebih mudah dan nyaman. Kita akan mendapat dua tabung berisi cairan untuk berkumur, serta sebuah corong. 

Nantinya, kita tinggal berkumur dengan cairan tersebut masih dengan sedikit menengadahkan kepala. Agar tidak tertelan, hembuskan hawa nafas dari dalam tenggorokan, sehingga cairan bisa menyentuh dinding belakang mulut. Karena di situlah letak sasaran liur yang paling tepat. Setelah itu, kita tempatkan bekas kumur tadi pada wadah yang lain. 

PCR kumur solusi nyaman untuk swab test tanpa colok. Kita bisa mendapatkannya juga di seluruh cabang GSI Lab Jabodetabek dan Bali. Jangan khawatir karena harganya pun terjangkau. Selain itu, metode ini bisa kita terapkan pada anak-anak yang telah belajar teknik gargle. 

Hasil PCR bermasalah dan positif tanpa gejala

[Sumber gambar]
Keluarnya hasil PCR bisa memakan waktu di bawah 24 jam atau lebih. Di lapangan, masih bisa kita temukan laporan tentang hasil PCR yang positif tanpa gejala atau bermasalah sebagai syarat perjalanan. 

Ada pula beberapa orang yang sampai melakukan 2-3 kali tes dengan hasil yang berbeda-beda, sehingga sempat mempertanyakan keabsahan PCR ini. Ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan hal ini terjadi: 

  • positif tanpa gejala namun tergolong OTG (Orang Tanpa Gejala)
  • perlu keselarasan analisa antara hasil tes dengan pemeriksaan secara nyata pada pasien
  • akurasi alat PCR pada dasarnya tidak 100%, melainkan 70%
  • lembaga tes PCR tidak melaksanakan swab sesuai prosedur dan aturan yang berlaku. 

Menghindari hal ini, pilihlah tempat untuk melakukan tes PCR di lembaga yang telah memenuhi SOP Swab Test dan resmi. GSI Lab telah menjadi laboratorium untuk Antigen dan PCR yang tercepat dan terpercaya. 

Melonjaknya kasus Covid-19, PCR jadi prioritas

Pandemi Covid-19 masih belum berakhir, karena variannya terus bermutasi dari satu jenis ke jenis yang lain. Mengikuti mobilitas manusia yang belakangan ini memang sudah kembali terbuka. Hampir semua negara, bergantian mengalami gelombang kedua dan ketiga mereka 

PCR adalah kunci tracing dan deteksi dini yang masih efektif dalam beberapa aspek. Yang pertama adalah ketika ada kasus positif, sedangkan yang kedua adalah sebagai syarat perjalanan. 

GSI Lab sendiri telah melayani hingga ratusan ribu pengguna sejak 2020, termasuk di antaranya adalah pemberian swab PCR gratis terhadap yang membutuhkan. Hal ini sebagai bentuk kontribusi untuk menyehatkan bangsa segera bisa pulih dari pandemi. 

BACA JUGA: Keunggulan Swab Antigen untuk Deteksi Risiko Terpapar Virus Covid-19

Namun, tak semua orang bisa menjangkau swab PCR kendati kini harganya sudah jauh lebih terjangkau. Bila ingin menjadi bagian bersama banyak orang baik lainnya, bergabung bersama kami di sini untuk donasi PCR. Karena dengan bergerak bersama, semua bisa mendapatkan hak untuk sehat. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *