Vaksin AstraZeneca benarkah berbahaya? Vaksin AstraZeneca ini menjadi salah satu pilihan vaksin dalam program vaksinasi melawan Covid 19.

Vaksinasi merupakan salah satu cara untuk membantu membentuk perisai pelindung diri untuk melawan virus corona penyebab Covid 19.

Program vaksinasi pun sudah berjalan sejak akhir tahun 2020 lalu di Indonesia.

Ketika vaksin Covid 19 pertama kali tersedia, pasokan awalnya masih terbatas dan ditargetkan ke kelompok prioritas, seperti tenaga kesehatan dan lansia.

Hingga kini program vaksinasi masih terus berjalan guna memutus rantai penyebaran Covid 19. Pemerintah Indonesia dengan begitu telah menetapkan untuk menggunakan enam vaksin Covid 19 , yaitu Bio Farma (Persero), AstraZeneca-Oxford, Sinopharm, Moderna, Pfizer-BioNTech, dan Sinovac.

Vaksin AstraZeneca dan Faktanya

Vaksin AstraZeneca merupakan salah satu daftar baru vaksin Covid 19. Para peneliti tidak menemukan efek samping pada relawan yang menerima vaksin ini dalam uji klinis fase I/II. Justru dalam uji ini didapatkan kemampuan vaksin ini dalam meningkatkan antibodi terhadap virus corona.

Dalam percobaan uji klinis fase I/II, para peneliti juga tak menemukan efek samping yang parah pada relawan vaksin dan ternyata hasilnya mampu meningkatkan antibodi relawan terhadap virus corona.

Vaksin AstraZeneca bekerja dengan cara merangsang tubuh untuk membentuk antibodi yang dapat melawan infeksi virus SARS-CoV-2.

Vaksin ini merupakan vaksin vektor adenoviral (rekombinan), yaitu mengandung virus flu biasa yang telah dimodifikasi sehingga tidak dapat bereplikasi atau berkembang dalam tubuh manusia, namun dapat menimbulkan respons kekebalan terhadap Covid 19.

 Beberapa waktu lalu bermunculan berita yang menyatakan vaksin ini berpotensi menyebabkan efek samping yang serius. Salah satunya, penurunan jumlah trombosit pasca-vaksin.

European Medicines Agency (EMA) mengatakan, efek samping tersebut merupakan kasus yang sangat jarang terjadi, yaitu hanya 1 dari 100.000 orang penerima vaksin.

Selain itu, penghentian uji coba atau riset vaksin ini  berlaku sementara ketika relawan mengalami peradangan atau myelitis transversal, yaitu sindrom peradangan yang mengenai sumsum tulang belakang, dan sering muncul akibat adanya infeksi virus.

Menurut FDA, bila dalam uji coba obat atau vaksin terjadi peristiwa merugikan (pada relawan), kemungkinan hal ini berkaitan dengan obat tertentu atau vaksin itu sendiri.

Menunda Penggunaannya

Mengutip laman Kementerian Kesehatan, kemungkinan pemerintah Indonesia akan menghentikan sementara penggunaan vaksin covid 19 AstraZeneca dari batch CTMAV547.

Penghentian pendistribusian dan penggunaannya tidak berlaku untuk semua batch. Namun hanya Batch CTMAV547 saja.  Selain batch ini dapat digunakan sehingga masyarakat tidak perlu ragu.

Ingat, konsultasi ke dokter terlebih dahulu menjadi salah satu langkah tepat sebelum vaksinasi.

Bagaimana dengan WHO?

Sekitar Februari 2021 lalu, WHO memberikan saran untuk tetap memanfaatkan vaksin AstraZeneca, terutama pada negara terutama varian mutasi virus corona. Pasalnya, vaksin ini tetap dapat memberikan proteksi agar tubuh dapat melawan bagian virus yang tidak bermutasi.

Menurut WHO, vaksin ini terutama pada individu usia lebih dari 18 tahun.

Namun sekali lagi, Anda perlu konsultasi dengan dokter sebelum melakukan vaksinasi, dengan vaksin keluaran manapun.

Vaksin AstraZeneca Memiliki Keunggulan

Berbeda dengan vaksin berbasis RNA lainnya dengan proses penyimpanan khusus (hingga minus 70°C), penyimpanan vaksin AstraZeneca bisa pada suhu kulkas biasa hingga enam bulan.

Uji klinis AstraZeneca pada virus corona varian asli, menunjukkan efikasi 76 persen pada dosis pertama. Efikasi ini meningkat hingga (minimal) 82 persen pada pemberian dosis kedua (jeda waktu 12 minggu). Vaksin juga bermanfaat dalam mereduksi beban virus, sehingga dapat membantu memperlambat penularan Covid 19. Berdasarkan data inilah vaksin jenis ini mendapat izin penggunaan dari lembaga pengawas obat Eropa-EMA dan lembaga serupa pada berbagai negara.

Sedangkan hasil studi terbaru Public Health England (2021) menunjukkan, pemberian dua dosis vaksin AstraZeneca efektif mengurangi gejala kesakitan dari varian baru B.1.1.7 (varian Inggris) sebesar 66%. Sementara satu dosis vaksin AstraZeneca efektif mengurangi gejala kesakitan dari varian B.1.1.7 (varian Inggris) sebesar 50%, setelah 3 minggu vaksin.

Penelitian yang berlangsung dari 5 April hingga 16 Mei 2021 ini juga menunjukkan, dua dosis vaksin AstraZeneca efektif mengurangi gejala kesakitan dari varian B.1.617.2 (varian India) hingga 60%. Dan satu dosis vaksin AstraZeneca menjukkan efektivitas sebesar 33% dalam mengurangi gejala kesakitan dari varian B.1.617.2 (varian India), 3 minggu pasca-vaksinasi.

Terkait laporan efek samping serius vaksin AstraZeneca, WHO dan EMA menyatakan akan terus melakukan kajian dan memublikasikan hasil laporan kepada publik nantinya.

 

Untuk memastikan tertular tidaknya Anda dengan Covid 19, lakukan tes PCR terdekat dengan hasil yang akurat di GSILab. Daftarnya  bisa via online.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *